Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Mujenih, Penemu Uang Rp 500 Juta Di KRL (koleksi Pribadi)
Dream – Wajah pria itu kini nampak lebih bersih. Lebih putih dan terkesan lebih gemuk dan berisi. Wajahnya tidak lagi tirus dan kurus seperti wajahnya dua tahun lalu. Ia terlihat lebih segar dan terawat.
Ia juga mengenakan pakaian kerja yang kini berwarna putih bersih. Dengan logo PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) terpampang di bahu kiri dan dada kiri. Berbeda jauh dari dengan pakaian kerjanya dua tahun lalu: berbaju kuning garis oranye.
Pria itu adalah Mujenih, 36 tahun. “ Saya sudah diangkat jadi karyawan tetap PT KCI,” kata Mujenih saat dihubungi Dream.co.id melalui Zoom pekan lalu.
Dari petugas kebersihan biasa, Mujenih kini sudah diangkat menjadi karyawan tetap dengan jabatan pengawas petugas kebersihan Kereta Rel Listrik (KRL) atau train wash cleaning dari Stasiun Serpong sampai Stasiun Merak. Ekonominya jelas sudah terkerek naik.
Dan semua itu merupakan buah atas kejujurannya mengembalikan uang kontan Rp 500 juta yang ditemukan dalam kantong plastik hitam di KRL dua tahun silam. Uang itu ditemukan Mujenih bersama kawannya, seorang petugas keamanan KRL, Egi Sandi Saputra, 26 tahun.
Egi sendiri kini juga telah diangkat sebagai karyawan tetap PT KCI. Kini Egi bekerja di Solo, Jawa Tengah, menjadi pengawas keamanan kereta barang dan kereta penumpang.
Itu semua merupakan karma baik atas apa yang mereka lakukan dua tahun lalu.
***
Mujenih lahir di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, 19 Januari 1984. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia menjalani pendidikan dari SD sampai SMP di Bojong Gede.
Saat menyelesaikan pendidikan SMA di tahun 2009, Mujenih sudah melakoni beberapa jenis pekerjaan. Ia pernah menjadi petugas keamanan. Ia juga pernah menjadi tukang antar jemput anak sekolah memakai sepeda motor.
Pada tahun 2018, dia melamar sebagai petugas kebersihan atau on trip cleaning PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI). Status kerjanya adalah karyawan kontrak atau outsourcing dengan gaji upah minimum regional atau UMR saat itu, sekitar Rp 4 jutaan.
Ia bekerja selama delapan jam sehari dalam satu shift kerja. Area kerjanya adalah membersihkan KRL sejak Stasiun Bojong Gede sampai Stasiun Bogor. Begitu juga sebaliknya, membersihkan kereta dari Stasiun Bogor sampai Stasiun Bojong Gede.
Tugas yang dia lakukan adalah mengelap kaca kereta, menyapu dan mengepel lantai KRL. Ia biasa bekerja dari ujung kereta sampai ujung kereta lainnya. Sementara gerbong di KRL ada berbagai variasi. Ada yang 8 gerbong, 10 gerbong, sampai 12 gerbong.
Kejadian penemuan uang itu terjadi pada Senin, 6 Juli 2020, di saat dia bekerja shift siang. Jam kerjanya sejak jam 2 siang hingga 10 malam.
Kejadian itu terjadi sekitar pukul 4-5 sore. Saat itu Mujenih naik dari stasiun Bojong Gede bersama timnya. Timnya ada tiga orang termasuk dirinya. Dua orang bertugas khusus membersihkan lantai KRL, satu menyiram, satu mengepel lantai. Di hari itu Mujenih bertugas menyapu lantai KRL.

Sebagai petugas penyapu lantai, Mujenih bergerak maju lebih dulu dari dua kawannya. Saat itu KRL yang dinaiki Mujenih dan temannya ada 12 gerbong. Situasi gerbong di sore itu cukup ramai. Apalagi cuaca tengah hujan. Ketika KRL tiba di Stasiun Bogor, karena suasana hujan, banyak penumpang KRL terburu-buru keluar dari gerbong KRL.
Pada saat tiba di gerbong 10, dia ditegur oleh petugas keamanan KRL bernama Egi Sandi Saputra. Egi mengatakan ia melihat ada kantung plastik hitam yang tertinggal di bawah bangku prioritas yang dikhususkan bagi para lanjut usia dan ibu hamil.
Sadar ada yang terlewat, Mujenih lalu menengok ke bawah bangku prioritas di gerbong 10. Dan ternyata benar, ada kantung plastik hitam ukuran sedang di bawah bangku prioritas.
Dari pengalaman Mujenih, kantung plastik yang sengaja disimpan penumpang di bawah bangku itu biasanya berisi sampah. Kalau benda berharga, pasti kantung plastik itu ditaruh di atas bangku penumpang.
Ia pun sempat menendang kantong plastik itu. " Awalnya saya tendang-tendang," kata Mujenih jujur. Karena dia khawatir isi kantung plastik itu kotoran manusia.
Sebab, temannya pernah punya pengalaman buruk di Stasiun Tanah Abang, ada orang iseng melempar kantung plastik ke dalam kereta begitu pintu terbuka. Ketika kantung plastik dibuka, ternyata kotoran manusia. Trauma karena pengalaman itu, Mujenih sempat menendang plastik untuk memastikan isinya bukan kotoran manusia.
Kantong plastik hitam itu ukurannya 5 kg. Setelah menendangnya, ia yakin kantong itu bukan kotoran manusia. Ehmm… ini sampah sepertinya. Ia sempat berpikir begitu awalnya. Tapi saat meraba, Mujenih merasa itu barang penumpang yang tertinggal, karena rasanya berbeda dengan kantung plastik berisi sampah.
" Saya curiga ini barang penumpang yang ketinggalan," katanya. Tapi Mujenih bersama Egi memang tidak lantas membuka kantong plastik yang masih terikat itu.
Mujenih dan Egi lalu mendatangi bagian kehilangan dan penemuan barang atau lost and found di bagian layanan penumpang (passenger service) Stasiun Bogor. Bersama dua petugas lost and found, dan tiga orang TNI dari Marinir yang bertugas menjaga Stasiun Bogor, lalu kantung plastik hitam itu dibuka.
Ternyata, di dalam kantung plastik hitam itu isinya uang tunai. Jumlahnya juga luar biasa. Di kantung plastik hitam berisi uang kontan pecahan Rp 100 ribu yang terikat dengan karet. Dan jumlahnya mencapai Rp 300 juta. Di dalam kantong plastik hitam itu masih ada kantung plastik berwarna merah. Saat kantung plastik merah dibuka, isinya juga uang. Uang tunai pecahan Rp 100 ribu. Jumlahnya Rp 200 juta! Jadi, total ada Rp 500 juta di kantung plastik itu!
Kagetlah semua yang hadir.

Ternyata, pemiliknya seorang yang sudah tua. Ia mengenakan kemeja dan celana bahan. Pemiliknya rupanya terburu-buru keluar KRL karena cuaca sedang hujan. Ia bahkan sudah sampai area luar Stasiun Bogor sampai kemudian sadar barangnya tertinggal.
Pria tua pemilik uang itu kemudian mendatangi peron KRL tempat dia turun. Ia sempat bertemu dengan dua petugas kebersihan kawan Mujenih yang tengah menyiram dan mengepel lantai KRL. Ia menanyakan apakah mereka menemukan kantung plastik hitam berisi uangnya.
" Apakah kamu melihat uang saya, lima ratus?," kata pria tua itu ke teman Mujenih.
Teman Mujenih menjawab, " 500 ribu?"
Pria tua itu menjawab, " Bukan. 500 juta,"
Kedua temannya kemudian menyarankan pria tua itu untuk ke bagian lost and found Stasiun Bogor.
Saat menuju bagian ini pria tua itu berpapasan dengan Mujenih. Mujenih memang sudah akan kembali bekerja. Ia tetap harus menuntaskan tugasnya di hari itu. Namun, melihat pria tua itu tampak kebingungan dan bertanya tentang barangnya yang ketinggalan, Mujenih pun menunda pekerjaannya. Ia mengantarkannya hingga ke bagian lost and found Stasiun Bogor.
Dan saat tiba di sana, pria tua itu menemukan kembali kantung plastik berisi Rp 500 juta miliknya. Utuh. Tanpa berkurang selembar pun.
***
Mujenih ingat kejadian itu terjadi pada hari Senin. Pada esok harinya dia ditelepon dari nomer tak dikenal. Ia angkat. Ia diminta bercerita tentang penemuan uang itu. Ia pun bercerita dengan polos. Ternyata yang menelpon wartawan. Kisahnya kemudian diangkat jadi berita dan dia pun jadi viral.
Akhirnya, dalam satu hari pernah dia menerima 40-50 telepon dari wartawan. Tidak semua dia ladeni, karena dia jadi stres. Sebab telepon itu menganggu konsentrasi kerjanya sebagai petugas kebersihan.
Mujenih sendiri tak menganggap lebih untuk kejujurannya. Ia mengaku hanya menjalani kerja sesuai standar operasional prosedur atau SOP yang ditetapkan PT KCI jika menemukan barang penumpang yang tertinggal, yakni: langsung menyerahkan ke bagian lost and found.
" Saya hanya bekerja berdasar SOP untuk barang penumpang yang ketinggalan," katanya.
Dalam pengalamanya sejauh ini, dia sering menemukan barang penumpang yang ketinggalan. Mulai dari tas sampai laptop. Semua dia kembalikan. Tapi penemuan uang Rp 500 juta adalah temuan terbesarnya.
Ia juga mengaku banyak orang yang menyebut dia dan Egi bodoh. Karena tidak mengambil uang kontan sebesar Rp 500 juta yang mereka temukan.
Yang jelas, ketika Mujenih menemukan barang penumpang yang ketinggalan, dia selalu teringat pesan kakeknya: " Kalau mau awet kerja, dipercaya orang, jangan bohong. Jangan ambil barang orang."
Mujenih mengaku tinggal dengan kakeknya setelah ibu dan ayahnya bercerai ketika dia masih kecil. Ia bersama ibunya tinggal di rumah kakeknya. Jadi, kakeknya sudah seperti pengganti sosok ayahnya yang selalu menasehati dia untuk bersikap jujur.
Atas kejujurannya itu Mujenih dan Egi diangkat dari karyawan kontrak menjadi karyawan tetap PT KCI.
Mujenih kini menjadi pengawas train wash cleaning di Stasiun Serpong-Merak. Sementara Egi bertugas sebagai pengawas keamanan di KAI Wilayah VI. Egi kini bekerja di Solo sebagai pengawas kereta penumpang dan kereta barang.
Bagi Mujenih, menjadi pengawas petugas kebersihan KRL adalah impiannya sejak dulu. Dulu, saat bekerja sebagai petugas kebersihan, dia sering takjub memandang pengawas.
" Dulu, kalau salaman dengan pengawas rasanya bangga banget," katanya. Maka, dia tak pernah membayangkan bisa duduk bersama mereka dalam posisi yang sejajar.
" Seperti mimpi," ujar Mujenih.
Menjadi jujur di zaman seperti sekarang ini, memang bukan perkara mudah. Lebih mudah mengambil jalan pintas untuk kaya. Tapi itu tidak dilakukan Mujenih dan Egi. Dan, nama mereka akan tetap dikenang sebagai simbol kejujuran orang kecil. Untuk itu, bangsa ini masih bisa optimis kejujuran anak bangsa belum lagi defisit. Apalagi habis. (eha)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam