Dakwah Rumah Para Mualaf

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 13 Januari 2016 21:36
Dakwah Rumah Para Mualaf
Mereka mualaf. Meninggalkan keyakinan lama untuk menyambut hidayah Allah SWT. Perjalanan hidup mengenal Islam mereka masih panjang.

Dream – Pria itu berdiri gelisah. Mondar-mandir tak karuan. Tak terasa kakinya sudah melangkah ke dapur. Sebuah gelas tak sadar sudah ada di genggamannya. Prang! seketika pecahlah gelas itu terlempar.

Sebulir air mata pelan-pelan meleleh di pipinya. Dia tak bisa lagi melawan. Dia pasrah. Di pojokan Apotek di Gunung Sitoli, Pulau Nias pria itu cuma bisa termenung. Berharap kegelisahan itu hilang.

Atanasius Videli Zebua, begitulah pria yang tengah dihinggapi kegelisahan itu dikenal. Usianya baru menginjak 17 tahun. Meski muda, perasaan ini terlampau sering dirasakannya.

Atanasius bukan seorang muslim. Namun entah mengapa tiap kali kumandang azan dan lantunan surat Alquran menyahut, hatinya langsung saja gelisah, marah, dan bimbang berkecamuk dalam dirinya.

Entah sudah berapa kali dia merasakan perasaan itu. Beberapa kali juga Atanasius ditegur pemilik apotek. Tapi ia tak ambil peduli, batinnya tak tenang. Pilihan pun jatuh. Dia memilih keluar dari pekerjaannya. Tekadnya bulat. Mencari jawaban kegelisahannya.

Perjalanan hidup membawa Atanasius berlabuh di sebuah toko material. Pemiliknya seorang muslim. Juzli Tanjung nama majikan baru Atanasius. Lima bulan bekerja di toko material itu, permintaan Atanasius membuat Juzli terhenya. “ Saya ingin masuk Islam,” katanya kepada majikannya.

Sesaat berpikir, Juzli berusaha bijak. Dia menyarankan Atanasius menghubungi orang tuanya. Tapi, Atanasius sudah kadung mengenal watak keluarganya. Dia tahu restu takkan pernah didapatnya.

Tanpa restu orang tua, Atanasius nekad. September 2013, lantunan dua kalimat syahadat meluncur dari mulutnya. Atanasius resmi menjadi seorang muslim. Nama lama ditanggalkan, berganti menjadi Annas Mansur Zebua.

“ Nama saya boleh berganti. Tapi nama Zebua harus melekat. Itu nama keluarga,” ucap pemuda kelahiran 22 Oktober 1996 saat menceritakan kisah perjalanan batinnya kepada reporter Dream, Maulana Kautsar.

Ancaman Mati dan Keluarga Baru >>>>>

 

1 dari 2 halaman

Keluarga Baru

Ketekunan Annas belajar Islam mempertemukannya dengan Abdul Azis. Dia adalah lulusan Pesantren Pembinaan Mualaf, Yayasan Annaba Center Indonesia. Juzli telah lama mengenal Abdul Azis. Awal tahun 2014 Annas bergabung.

Kabar mengejutkan menghampiri Annas usai dua pekan mondok di Pesantren. Nun jauh di Nias, lewat sambungan telepon, Annas dibentak sang Ayah. Kepindahan keyakinan sudah diketahui. Kata-kata kasar dan ancaman keluar dari mulut sang Ayah.

“ Ayah mengancam akan membunuh saya juga. Sebab, keluarga malu jika suatu keluarga anaknya ada yang tak seiman,” ujar Annas pasrah.

Namun ancaman Ayah tak membuat pantang. Dengan putusnya hubungan keluarga, Pesantren Pembinaan Mualaf kini berubah menjadi rumah dan keluarga barunya.

Sekilas tak ada yang istimewa dari komplek Pesantren ini. Bangunan dua lantai berbentuk huruf U itu lebih sering lengang. Mirip sekolah yang sepi ditinggal siswanya berlibur. Sebuah tulisan “ Pesantren Pembinaan Mualaf, Yayasan Annaba Center Indonesia” menjadi penanda. Warga sekitar pesantren yang terletak di Jalan Cendrawasih IV no 1, Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan menyebutnya Pesantren Mualaf.

Berdiri sejak 2006, pesantren ini hadir karena keprihatinan. Kondisi mualaf yang tak terurus menyentuh hati Ustaz Syamsul Arifin Nababan. Dialah pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Mualaf. Pengalaman membimbing seorang mualaf yang dibuang keluarga dan mencari sesuap nasi dari menyapu pelataran masjid Istiqlal, Jakarta menggugahnya.

“ Tak lama setelah kejadian itu, muncul inisiatif untuk segera membangun pesantren yang dapat mewadahi para mualaf,” ucap pria yang dahulu bernama Bernand Nababan itu, kepada Dream.

Berbekal niat, Ustaz Nababan mengirimkan pesan berantai kepada koleganya. Proses penggalangan dana disiapkan. Sampai akhirnya tanah seluas 2000 meter persegi mampu dibeli. Disinilah kelak berdiri Pesantren Mualaf yang rampung pada akhir 2008.

Pesantren ini tak seperti kebanyakan. Sekretaris Yayasan Annaba Center Indonesia Ozi Setiadi mengatakan pengasuh pesantren ingin akidah Islam para mualaf lebih kuat. Membaca dan menghapal Alquran, mengaji fiqih, hingga kajian perbandingan agama semua diajaran.

“ Agar salatnya tidak asal-asalan misalnya, para mualaf diajarkan pelajaran fiqih, Pelajaran perbandingan agama sangat diperlukan untuk memberi pemahaman bahwa para mualaf tidak salah memilih Islam sebagai agama mereka,” kata Ustaz Idham Cholid, salah seorang pengajar di pesantren ini.

Tak cuma kurikulum, pola pengajaran Pesantren Mualaf juga berbeda. Tak ada disiplin ketat apalagi sampai hukuman. Pesantren Mualaf mengedepankan lemah lembut namun tegas.

“ Jika nanti para mualaf ini dididik dengan cara yang keras, melihat Islam ini keras dan akhirnya murtad,” katanya.

Saban subuh, penghuni pesantren diajak zikir pagi dilanjutkan baca Alquran dan setoran hafalan. Siangnya mereka diberikan waktu bebas. Aktivitas ibadah baru kembali dilakoni ba’da Ashar.

Siswa juga diberikan kesempatan mengenyam pendidikan di luar pondok. Mereka disekolahkan di lembaga pendidikan yang bermitra dengan pesantren. “ Kami sudah bermitra dengan Sekolah Ilmu Dakwah Islam Al Hikmah, Mampang dan untuk sekolah menengah atas di SMK Al Ummah,” ujar Cholid, pria lulusan Pesantren Gontor ini.

Di luar pendidikan resmi, Ozi menimpali, ada pula pembekalan keterampilan. Para Mualaf dikirim belajar ke Rumah Gemilang Indonesia (RGI). Harapannya, para mualaf bisa mencari penghasilan untuk bekal hidupnya kelak.

Meski kantong pas-pasan, pengasuh berusaha memberian pendidikan dan pelayanan gratis. “ Insya Allah dari pendirikan hingga kehidupan sehari-hari semuanya tidak ada pungutan biaya,” kata dia.

Masih Ada Perasaan Mengganjal >>>>

2 dari 2 halaman

Masih Ada Perasaan Mengganjal

Sayang tak semua mualaf bisa mempelajari Islam di pesantren ini. Daya tampungnya hanya 12 kamar santri laki-laki. Satu kamar diisi dua hingga tiga orang santri. Meski kecil, pengasuh pesantren berharap sisi psikologis santri mualaf bisa terbangun.

“ Syarat yang kami terapkan, mualaf yang boleh tinggal di pesantren ini harus lajang dan memiliki umur kurang dari 35 tahun. Tapi kalau ada santri yang ingin belajar, silakan datang,” ujar dia.

Beberapa tahun berjalan, Pesantren Mualaf sudah memiliki 34 orang santri yang menetap. Empat santri berasal dari wilayah minoritas Islam. Mereka sengaja dididik agar kelak menyebarkan ajaran Islam di kampung halamannya.

Ragam latar belakang dan budaya membuat kesabaran pengasuh pesantren ini diuji. Di awal pendiriannya, tak terhitung perselisihan antarsantri yang pernah terjadi.

“ Tak jarang mereka yang datang ke sini masih membawa watak keras, jadi perbedaan kecil kerap menjadi perselisihan,” kata Cholid.

Tak cuma soal daya tampung, Yayasan Annaba Center pun belum bisa memenuhi niatnya membua pesantren mualaf khusus perempuan. Tapi niat itu sudah terbesit. Membangun pesantren khusus wanita ini memang tak gampang.

“ Jika mualaf laki-laki misalnya kan bisa tinggal dan tidur berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain. Kalau perempuan? Itulah mengapa kami berupaya membangun pesantren mualaf perempuan untuk menampung mereka,” ujar Ozi.

Jalan untuk terus membina mualaf memang masih panjang. Namun pelan-pelan niat itu mulai terlihat. Meski Ozi dan Ustaz Cholid sebetulnya masih menyimpan perasaan berat. Sebuah pesan menohok dari sang guru, ustaz Nababan terus terngiang di kepala mereka.

“ Jika para mualaf itu dibuang dari keluarga mereka, maka mari kita buatkan keluarga baru untuk mereka,” kata sang ustaz.

Annas kini memang tak lagi gelisah. Wajahnya jauh berbinar. Dua juz hapalan Alquran telah tersimpan baik dalam ingatannya. Senyum pun kerap tersungging kala teman-teman di Pesantren Mualaf menggodanya.

Annas saat ini mungkin sudah tinggal di rumah baru bersama keluarga barunya. Namun lelaki asal kampung Ononamolo II Lor ini masih menyimpan kerinduan. Bayangan gunung dan lembah yang hijau kampung halaman kerap melintas. Kerinduan kehadiran keluarga begitu besar.

“ Saya rindu dengan keluarga,” kata anak ke dua dari lima bersaudara ini dengan nada bergetar.

Beri Komentar