Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin
Dream - Kasus Covid-19 di Indonesia masih cukup tinggi jika dilihat dari positivity rate atau tingkat kasus positif. Saat ini, positivity rate secara nasional masih sekitar 20 persen.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan, positivity rate Covid-19 di Indonesia masih di atas angka standar WHO, yaitu sekitar 5 persen ke bawah. Menurut dia, ada beberapa hipotesa yang muncul terkait hal ini.
" Kita amati bahwa banyak data mengenai hasil PCR kalau itu sifatnya negatif belum langsung dikirim ke pusat sehingga data yang kami terima itu lebih banyak data yang positif," ujar Budi dalam konferensi pers virtual, Rabu 17 Februari 2021.
Terkait hipotesa ini, pihaknya telah melakukan pengecekan ke sejumlah rumah sakit dan laboratorium. Didapati temuan berupa data lapangan yang sangat banyak namun sulit dimasukkan ke aplikasi testing lantaran user interface yang rumit.
" User interface atau cara memasukkan ke sistem aplikasi itu mengakibatkan banyak lab yang memasukkan data yang positif dulu," kata Budi.
Sementara data hasil tes PCR negatif tidak dimasukkan karena kebanyakan lab menilai cukup data positif yang dilaporkan. Sehingga pasien bisa segera diisolasi.
" Itu mengakibatkan positivity rate-nya naik," ucap Budi.
Untuk mengatasi masalah ini, Kemenkes telah melakukan perbaikan pada user interface aplikasi testing sehingga memudahkan rumah sakit, laboratorium maupun fasilitas kesehatan memasukkan laporan. Dengan begitu, jumlah data yang masuk bisa lebih banyak mencakup pula hasil tes negatif.
" Dengan demikian kita merasa dengan masuknya lebih banyak data dan data yang negatif sesudah dites itu akan membuat positivity rate kita itu merefleksikan angka yang sebenarnya," kata dia.
Hipotesa lain, kata Budi, positivity rate memang sudah tinggi namun tingkat testing yang dijalankan kurang. Untuk masalah ini, pihaknya akan meningkatkan jumlah pemeriksaan menggunakan metode rapid test antigen.
" Dengan makin luasnya cakupan target pemeriksaan, diharapkan positivity rate yang didapat menggambarkan kondisi sebenarnya," ucap Budi.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan