Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Foto Saat Orang-orang Yang Dituduh PKI Dikumpulkan (theguardian.com)
Dream - Sejumlah dokumen kabel diplomatik Amerika Serikat yang telah diklasifikasi terkait tragedi 1965 kembali dibuka. Dokumen itu dibuka pada Selasa 17 Okrober oleh tiga lembaga negeri Paman Sam itu, yaitu National Security Archive (NSA), National Declasification Center (NDC), dan National Archives and Records Administration (NARA).
Dokumen tersebut merupakan berkas kabel diplomatik yang masuk dan keluar AS dari Kedutaan Besar AS untuk Indonesia sepanjang 1964 sampai 1968. Berkas-berkas tersebut berisi gambaran mengenai teror yang terjadi di Indonesia yang dilakukan oleh militer.
Dilaporkan The Guardian, dokumen tersebut juga menyebutkan dukungan yang diberikan oleh AS atas upaya militer Indonesia, seperti menguasai pusat siaran RRI dan memusnahkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk daftar pejabat PKI, peralatan radio, dan sejumlah uang.
Bahkan, sejumlah pejabat AS bergembira ketika jenderal konsevatif menerapkan darurat militer di Jakarta beberapa saat setelah terjadinya peristiwa pembunuhan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat.
Dokumen-dokumen itu juga menyebut secara spesifik tentang instruksi pembantaian orang-orang yang dituduh PKI. Instruksi tersebut datang dari salah seorang perwira AD, yang ditujukan kepada seluruh tentara.
Kabel diplomatik pada 21 Desember 1965 dari Sekretaris Pertama Dubes AS untuk Indonesia, Mary Vance Trent, menyebut telah terjadi 'peralihan mencengangkan yang terjadi dalam 10 pekan yang singkat'. Dokumen itu menyebutkan ada sekitar 100 ribu orang telah dibunuh.
Di Bali, pada bulan yang sama, ada laporan menyebut 10 ribu orang terbunuh. Tetapi, dalam dua bulan kemudian, laporan dari Kedubes lain menyebutkan jumlahnya membengkak menjadi 80 ribu orang.
Dokumen ini dibuka seiring meningkatnya retorika anti-komunis yang saat ini ada di Indonesia.
" Pembunuhan massal yang terjadi pada 1965-66 termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan terburuk di dunia, dan menjadi rahasia gelap dari negara kami," ujar pengacara HAM Indonesia, Veronica Koman, dikutip dari The Guardian.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang