Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Agus Sunyoto (berbaju Hitam) Saat Menjadi Diskusi Di Gedung PB NU, Jumat, 13 November 2015 (Dream)
Dream - Peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November lalu barangkali telah lewat. Meski begitu tak banyak yang tahu jika kejadian 10 November terjadi karena tawuran.
" Awal mulanya sebetulnya ialah Insiden Hotel Oranje pada 19 September. Yang mana ada insiden dirobeknya bendera Belanda itu. Setelah keluarnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH. Hasyim Asyari pada 22 Oktober barulah terjadi tawuran massa," jelas sejarahwan Agus Sunyoto di sela-sela diskusi bertema " Mengurai Hubungan Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan" di Gedung PB NU, Jakarta, Jumat, 13 November 2015.
Menurut penelitian Agus, bagi masyarakat Surabaya, penyebaran pamflet oleh Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) yang berisi penguasaan Inggris atas wilayah Surabaya pada 27 Oktober 1945 menambah panjang emosi warga.
Akibatnya, berbekal Resolusi Jihad dan emosi yang membara, masyarakat Surabaya melawan tentara sekutu dengan senjata seadanya.
" Bagi mereka (warga Surabaya) ini tak lain tawuran. Sebab, tidak ada komando resmi. Tetapi, karena keberanian ini pimpinan sekutu Mallaby (Bridgjen AWS Mallaby-red) terbunuh," tambahnya.
Pasca terbunuhnya Bridgjen AWS Mallaby itulah Panglima Allied Forces Nedeland East Indie (AFNEI) Letjen Philip Christison mengultimatum pemerintah Indonesia. Isi ultimatum itu tak lain merupakan permintaan untuk menyerahkan pembunuh Mallaby. Jika tidak, AFNEI mengancam membumihanguskan Surabaya.
Sebelum berakhirnya ultimatum pada 10 November 1945 itulah beberapa ulama bertemu di Yogyakarta. Hasilnya pertemuan itu disepakati, Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari menjadi kebulatan tekad untuk merespon ultimatum AFNEI. Maka, pada 10 November 1945 itulah terjadi perang besar antara warga Surabaya dan Laskar Hizbullah melawan 24.00 pasukan NICA.
" Perang itu menjadi perang tersulit yang dialami oleh pasukan NICA. Setidaknya, NICA butuh 100 hari untuk meredam perlawanan massa dan memukul mundur hingga Mojokerto," jelasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang