Syarat Driver `UberJek`: Dilarang Bau Badan!

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 13 November 2015 18:28
Syarat Driver `UberJek`: Dilarang Bau Badan!
Perusahaan mengaku satu-satunya yang mengajukan syarat lols tes bau badan ini.

Dream - Ternyata tak semua masyarakat Indonesia bisa melamar menjadi sopir ojek online. Apalagi jika memiliki masalah bau badan.

Kabar mengejutkan ini datang dari perusahaan ojek online UberJEK. Aplikasi sewa ojek online terbaru ini hanya akan merekrut calon sopir yang lolos tes bau badan.

Persyaratan cukup tak lazim ini mulai diperkenalkan UberJEK yang baru mulai beroperasi tahun depan.

Dalam website perusahaan terlihat jelas sebuah iklan yang menggambarkan seorang pria tengah mencium bau ketek pelamarnya.

" Bagi yang punya masalah bau ketek, maaf tidak bisa jadi rider uberJek," bunyi pengumuman iklan tersebut.

 Syarat Driver UberJek: Dilarang Bau Badan!

Untuk lulus menjadi sopir ojek, UberJEK memberlakukan dua tahapan seleksi. Pertama seleksi administrasi yang didalamnya termasuk kewajiban menyimpan saldo awal Rp 100 ribu.

Tahap kedua adalah pelamar harus lolos seleksi operasional. Dalam tes ini, pelamar akan dites mulai dari kelayakan motor, pengetahuan lalu lintas, terakhir tes bau ketek.

" Berbeda dengan perusahan ojek online lainnya, UberJEK melakukan tes bau ketet pada setiap calon rider," ungkap perushaan.

Dengan tes ini, UberJEK berharap bisa memberikan kenyamanan bagi pelangganya.

Untuk tahap awal, uberJEK akan beroperasi dengan tiga layanan yaitu membawa penumpang (U-TRansport), mengantar barang (U-Courier), dan penumpang wanita yang menginginkan sopir wanita (U-Lady).

Masih dari website yang sama, uberJEK didirikan Aris Wahyudi yang merupakan pendiri sekaligus CEO. Aris merupakan alumnus Essex University di Inggris.  (Ism) 

1 dari 5 halaman

Wanita Pengemudi Go-Jek Dipukuli Tukang Ojek Pangkalan

Dream - Seorang wanita pengemudi Go-Jek bernama Istiqomah, dianiaya tukang ojek yang mangkal dekat kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Jalan Buncit Raya.

Kepala Seksi Humas Polsek Pancoran Bripka Rubiyanto, mengatakan peristiwa terjadi pukul 10.30, Jumat kemarin. Dipicu lantaran Istiqomah yang mengantar penumpangnya ke lokasi tersebut.

" Pelaku yang diketahui bernama adalah pengojek yang mangkal di Pangkalan Kantor Imigrasi Jaksel," kata Rubiyanto saat dikonfirmasi, hari ini.

Kata dia, peristiwa itu terjadi usai Istiqomah selesai mengantar penumpangnya. Kemudian Istiqomah hendak mengangkut penumpang lain di daerah situ.

Ketika hendak mengangkut penumpang itulah Bambang menghampiri Istiqomah. " Bambang dan istiqomah sempat adu mulut, lalu kemudian berakhir dengan pemukulan kepala Istiqomah yang memakai helm," katanya.

Namun, masalah itu kemudian diselesaikan di Polsek Pancoran secara musyawarah. Istiqomah tak jadi membuat laporan, sebab korban tak mengalami luka serius.‎ " Masalahnya selesai dan tidak jadi buat laporan," Ujar Rubiyato.

Istiqomah mengaku tidak mengetahui sebab mengapa ia dipukul. " Dia tiba-tiba datang dan bilang jangan ambil penumpang, saya kan cuma menjalankan tugas karena penumpangnya sudah memesan melalui kantor," ujarnya.

Meski kesal, dia mengaku semuanya sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

Foto di Sosmed

Rubiyanto menegaskan foto pengendara Go-Jek perempuan babak belur yang banyak beredar di sosial media bukanlah Istiqomah.

" Foto yang tersebar di sosial media itu bukan ibu Istiqomah dan bukan terjadi di Warung Buncit. Karena perkaranya sudah selesai, ia tidak membuat laporan polisi."

2 dari 5 halaman

Nadiem Makarim, `Tukang Ojek Modern` Lulusan Harvard

Dream - " Ternyata lebih dari 70 persen waktu kerja tukang ojek hanya menunggu pelanggan, ditambah kemacetan Jakarta." Kalimat itu meluncur dari mulut Nadiem Makarim. Pemuda 31 tahun lulusan universitas ternama di Amerika Serikat.

Tak semua orang mengenal sosok Nadiem. Namun coba sebut Go-Jek. Masyarakat ibukota dan kota besar di wilayah satelit ibukota pasti langsung tersadar. Go-Jek adalah Nadiem. Dialah pendiri moda transportasi ojek modern di ibukota.

Ide bisnis pria kelahiran 4 Juli 2984 ini lahir tanpa sengaja. Perbincangannya dengan tukang ojek langganan membuka cakrawala bisnis baru.

" Jika ada layanan transpor dan delivery (pengantaran) yang cepat dan praktis, pasti akan sangat membantu warga Jakarta," ujar Nadiem.

Berbekal ambisi besar menjadi seorang entrepreneur, Nadiem pelan-pelan mewujudkan idenya tersebut. Sampai akhirnya, Go-Jek mulai beroperasi tahun 2011. Kawasan Jabodetabek jadi targetnya menjalankan bisnis sekaligus memberi layanan jasa transportasi dan kurir serba cepat dan proaktif.

Tak hanya bisnis dan layanan semata, Go-Jek dibangun dengan misi sosial. Meningkatkan pendapatan para tukang ojek di Jakarta adalah mimpi Nadiem.

Dunia pendidikan membuat Nadiem harus meninggalkan bisnis yang dibangunnya tersebut. Meski harus bertandang ke Amerika Serikat, toh hasrat bungsu dari 3 bersaudara ini untuk terus mengembangkan GO-JEK, tetap hidup.

Nadiem mulai berpikir untuk menggandeng berbagai perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya.

Otak bisnis Nadiem memang sudah terasah cukup tajam. Mengawali sekolah dasar di Jakarta, Nadiem pernah merasakan ketatnya sistem pendidikan di sebuah SMA di Singapura. Memasuki dunia mahasiswa, Nadiem memilih jalur sarjana di Brown University AS. Jurusan International Relations jadi incarannya. Selama satu tahun, Nadiem sempat mengikuti foreign exchange di London School of Economics.

Tak puas menjadi sarjana, Nadiem pulang ke Indonesia dengan menyandang gelar MBA (Master of Business Administration) dari Harvard Business School.

Lulus dari Brown, Nadiem tak butuh waktu lama terjun ke dunia kerja. Berbekal ijazah yang dimilikinya, Nadiem direkrut menjadi Management Consultant di sebuah lembaga konsultan ternama McKinsey & Company. Di perusahaan ini, Nadiem menghabiskan waktu 3 tahun di kantor mereka di Jakarta.

Selama bekerja itulah, Nadiem banyak membantu berbagai perusahaan besar di berbagai sektor mengatasi kendala-kendala bisnis mereka.

Melihat latar belakang keluargnya, Nadiem sebetulnya bukan lahir dari kalangan pengusaha. Ayahnya yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah berprofesi sebagai pengacara, sementara ibu dari Pasuruan, Jawa Timur bekerja di bidang non-profit.

" Di keluarga hanya saya yang aktif di bidang entrepreneurship," ujar Nadiem.

Meski memilih jalur berbeda, toh Nadiem cukup beruntung memiliki orang tua yang pengertian. Kedua orangtua selalu mendukung usahanya. Hanya ada satu syarat yang diberikan. Usaha Nadiem harus bisa membantu masyarakat Indonesia.

" Saya dididik dari kecil untuk kembali dan berkontribusi ke Tanah Air, walaupun seumur hidup lebih sering sekolah di luar negeri. Orangtua saya sangat nasionalis, dan karena itu passion saya untuk Indonesia sangat besar," tambahnya. 

3 dari 5 halaman

Mengharukan, Tukang Ojek Renta Palmerah Bertarif `Seikhlasnya`

Dream - Usia Soleh tidak lagi muda, 65 tahun. Dengan usia seperti itu, lazimnya seseorang akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan beraktivitas ringan di rumah.

Tetapi, tidak demikian bagi Soleh. Di usia tersebut, Soleh tidak lelah mengais rezeki sebagai pengojek.

Kisah tentang Soleh diabadikan oleh seorang pengguna Facebook, Dewi Rachmayani. Dia sempat mengunggah foto kakek ini di laman pribadi miliknya.

" Siang ini, batalin orderan Grab Bike dari stasiun Palmerah-ktr (kantor). Pasalnya, di stasiun Palmerah ketemu kakek2 yg dgn sopan nyodorin helm ke orang yg lalu lalang di trotoar,"  tulis Dewi di akun facebook dia, diakses Dream pada Rabu, 2 September 2015.

Dewi menerangkan kakek ini telah 10 tahun menjadi pengojek. Dia sempat berbincang dengan Soleh ketika menuju tempat kerjanya di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan.

" Setiap hari, Pak Soleh bergerak dari rumahnya di Sawangan, Depok menuju stasiun Palmerah,"  tulis Dewi.

Soleh sempat berkeluh kepada Dewi. Tidak banyak orang yang mau memakai jasanya lantaran kondisi fisiknya yang terlihat renta.

" Orang rata-rata pada takut kalo yg nyetirin udah tua kaya saya, Neng,"  ungkap Dewi menirukan perkataan Soleh.

Alhasil, Soleh hanya mampu memperoleh pendapatan rata-rata Rp60.000 setiap hari. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pengojek lainnya.

Perjalanan dari stasiun Palmerah ke kantor Dewi berlangsung selama 20 menit. Setiba di kantor, Dewi sempat menanyakan berapa ongkos yang harus dia bayarkan kepada Soleh.

" Terserah. Seikhlas penumpang aja,"  jawab Soleh.

Jawaban itu tidak membuat Dewi puas. Dia lalu mendesak Soleh menyebut angka besaran ongkos ojek.

" Kalo 20 ribu kemahalan nggak Neng?"  kata Soleh kepada Dewi.

Dewi kemudian memeriksa dompetnya dan menemukan uang sejumlah Rp170.000. Dia meninggalkan Rp20.000 di dompetnya, sedangkan sisanya dia berikan kepada Soleh.

" Mata Pak Soleh berkaca-kaca ketika rupiah berpindah. Gw pinta nomor hpnya dan langsung pamit, nggak mau ketauan kalo mata gw juga tiba2 kelilipan,"  tulis Dewi.

Selengkapnya, simak pada tautan ini. (Ism) 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

Ayo berbagi traffic di sini! 

4 dari 5 halaman

Ojek Khusus Muslimah `Bernafas` Syar`i

Dream - Jadwal Evilita Andriani, 19 tahun, senja itu sedang sangat sibuk. Usai salat Maghrib, dia harus membereskan manajerial di kantor yang beralamat di Jalan Sawahan Baru gang 2 no 73 Surabaya itu. Seseorang sudah menunggu.

Tak berselang lama, bunyi pesan whatsapp dari ponsel milik Evi berderik. Padahal di hadapannya ada wanita yang sedang melamar kerja sedang bersiap. Dia menyempatkan diri membalas pesan itu.

" 5 menit lagi ya mas. Sedang ada wawancara [calon] Costumer Servis baru buat Ojek Syar'i," tulisnya via whatsapp ke pada Dream.co.id.

Itulah aktivitas kerja Evi pada Jumat, 7 Agustus 2015. Pekerjaan itu barangkali tidak terbayang di benaknya. Sebab, tujuh bulan lalu dia masih lapangan. Menjadi kurir sekaligus pengojek.

Saat, terjun di lapangan membuatnya melihat banyak realitas. Dia mengamati banyak dari wanita yang harus berboncengan dengan pengojek yang bukan muhrimnya. Dia pun sering melihat banyak wanita kesulitan mencari fasilitas transportasi yang syar'i. Ide brilian tercetus.

Bersama seorang kawannya yang juga seorang kurir, Reza Zamir, dia mendirikan usaha ojek. Usaha itu lantas dinamainya Ojek Syar'i. Ojek khusus untuk penumpang perempuan.

" Usaha itu digagas bulan Februari dan mulai beroperasi pada 10 Maret 2015," tuturnya kepadaDream.co.id melalui sambungan telepon.

Untuk menggunakan jasa Ojek Syar'i, konsumen dikenakan biaya awal Rp 5 ribu. Selanjutnya, tarif per kilometer yang dikenakan adalah Rp 3 ribu. Adapun uang tunggu sebesar Rp 5 ribu.

Saat ini, usaha yang dirintis itu mulai menampakkan hasil. Tanggapan masyarakat pun baik. Beberapa perempuan dari latar belakang profesi ikut mendaftar menjadi pengojek. Jumlahnya pun saat ini telah mencapai 18 orang.

" Mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga mantan sales promotion girl (SPG)," kata Reza, pria yang bertugas sebagai koordinator marketing usaha ini.

Masalah kemudian terbentang. Bagaimana para srikandi ojek itu menghadapi kriminalitas yang akan dihadapi di lapangan?

" Rencananya kita akan melatih beladiri para pengojek," kata Evi.

Selain itu Evi meminta setiap pengendara mengecek kembali rute yang akan dituju. Evi menambahkan, pihaknya membatasi beroperasinya Ojek Syar'i.

" Ya kita usahakan operasi ojek sampai pukul delapan malam saja," kata dia.

Dia pun juga berencana akan menggandeng pihak yang berwajib. Tapi, itu rencana jangka panjang.

Secara manajerial, Ojek Syar'i menerapkan keuntungan yang serupa dengan bisnis ojek lain. Reza mengatakan, Ojek Syar'i menerapkan pembagian keuntungan 70 persen untuk pengemudi dan 30 persen untuk manajemen.

Dari perhitungan itu, dalam sebulan, para pengojek yang bernaung di bawah bendera Ojek Syar'i bisa mendapatkan uang hingga Rp. 1,2 juta. Adapun omset yang didapat oleh Ojek Syar'i sekitar Rp. 7 juta per bulan.

Kini, enam kota sudah dipersiapkan menjadi wilayah baru. Sidoharjo, Malang, Gresik, Yogyakarta, dan Jakarta Barat menjadi wilayah uji pasar Ojek Syar'i.

" Kita menerapkan mitra daerah (franchise). Tapi, untuk pemesanan masih berpusat di Surabaya baik melalui telepon maupun aplikasi sosial media," jelas Reza.

Sebagai penunjang, Evi kini tengah mempesiapkan aplikasi untuk konsumen dan pengojeknya. Dia berharap usaha yang dijalankan bisa mampu menembus pasar nasional.

" Insya Allah pangsa pasar perempuan akan kita dapatkan. Semoga saja bisa sampai nasional. Syukur-syukur mendunia," Evi berharap. (Ism) 

5 dari 5 halaman

Ojek Online Tak Diakui, Nasib Gojek dan Grabbike?

Dream - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan sepeda motor roda dua bukan merupakan alat transportasi umum. Dengan kata lain, bisnis ojek online yang sedang menjamur dengan sarana sepeda motor tak diakui pemerintah.

" Yang diatur pemerintah adalah sarananya, dalam hal ini sepeda motor sebagai alat transportasi umum," ujar Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono dilansir lamanKemenhub dikutip Dream, Jumat, 6 November 2015.

Djoko menjelaskan, pihaknya sama sekali tak mempermasalahkan pengembangan aplikasi transportasi masal yang dikembangkan sejumlah pihak. " Karena pemerintah terus mendorongsmart application,"  katanya.

Namun dalam kaitannya sebagai sarana transportasi umum, Kemenhub secara tegas melarang keberadaan perusahaan angkutan umum roda dua seperti Go Jek, Grab Taxi, Grabbike, Lady Jek, Blue Jek dan sebagainya, beroperasi sebagai angkutan umum.

Pemerintah justru mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan transportasi umum sesuai dengan Pasal 139 UU No. 22 Tahun 2015 yang menyebutkan, Pemerintah wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antar kota, antar provinsi serta lintas batas negara.

Djoko menjelaskan, perusahaan angkutan umum wajib memenuhi standar pelayanan minimal yang meliputi keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan dan keteraturan. Semua jenis pelayanan ini diatur dalam Pasal 141 UU No. 22 Tahun 2009.

Namun para pemilik ojek online setidaknya bisa bernapas lega. Setidaknya, Nining dari Dewan Pertahanan Nasional (Wantanas) mengaku, pemerintah selama ini memang membutuhkan sarana yang cepat dan murah.

Di sisi lain, Organda sebagai perusahaan transportasi justru tidak bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.

Nining mengimbau, pemerintah setidaknya mengamandemen UU agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. " Untuk menyesuaikan kekinian," ujarnya.

Salah satu usulannya adalah ojek yang sudah muncul sejak belasan tahun, untuk dilegalkan sebagai alat transportasi umum. Namun dengan syarat lintas operasionalnya diatur misalkan hanya di kawasan perumahan, gang-gang di kawasan perkotaan.

" Bila masuk ke jalur protokol, aparat harus menindak tegas," katanya. (Ism) 

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya