Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas (kedua Kiri), Ketua Tim Dokter Forensik Dr Gatot Suharto SpF (kiri) Serta Dua Komisioner Komnas HAM Siane Indriani (kedua Kanan) Dan Hafid Abbas Menunjukkan Foto Autopsi Jenazah Siyono (Antara Foto)
Dream - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Danhil Anzar Simanjutak membeberkan empat butir kesimpulan tim dokter forensik Muhammadiyah, mengenai kematian Siyono, pria yang tewas di tangan Densus 88.
Empat butir kesimpulan yang dijabarkan Dahnil itu sekaligus menjadi bantahan terhadap pernyataan polisi. Selama ini, polisi menyebut kematian Siyono terjadi akibat aksi perlawanan.
Terdapat dua hal penting dari keterangan polisi yang ditekankan oleh Dahnil. Dua hal tersebut yaitu indikasi luka dan perlawanan, yang ternyata tidak ada dalam hasil autopsi.
" Tidak betul indikasi kematian akibat pendarahan hebat di kepala. Hasil autopsi forensik menyebut tidak ada pendarahan di kepala. Jadi agak aneh kepolisian menyebut pendarahan di kepala," kata Dahnil di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jakarta, Senin, 11 April 2016.
Menurut Dahnil, autopsi ini masih proses pertama. Dahnil pun dengan tegas menyatakan polisi tidak pernah menjalankan autopsi terhadap jenazah Siyono.
" Tidak benar sudah dilakukan autopsi terhadap jenazah Siyono sebelumnya. Ini autopsi pertama. Sebelumnya pihak Densus sebut sudah autopsi," ucap dia.
Berdasarkan autopsi pada Minggu, 3 April 2016 lalu, tim dokter forensik Muhammadiyah menemukan sejumlah luka dalam berupa patah tulang dada yang menjadi penyebab utama kematian Siyono. Luka dalam yang sangat vital ialah tertusuknya jantung Siyono karena patahan tulang dada.
Lebih lanjut, Dahnil menyebut, luka tersebut bukan didapat Siyono karena melawan saat diamankan anggota Densus 88. Sebab, selama autopsi, tim dokter tidak menemukan indikasi korban melawan.
" Tidak ada luka tangkis yang bentuknya perlawanan," ucap dia.
Hasil autopsi ini akan disampaikan oleh tim advokasi Muhammadiyah untuk keluarga Siyono kepada polisi, Komnas HAM, dan publik. Dahnil berharap, dengan terbukanya informasi ini, kinerja Densus 88 yang selama ini bergerak progresif dapat dievaluasi.
Terkait hasil ini, Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar mengatakan tindakan yang dilakukan Muhammadiyah dan Komnas HAM dengan mengautopsi Siyono menjadi bahan untuk mengevaluasi pemberantasan terorisme. Ke depannya, dia berharap pemberantasan terorisme dapat dilakukan dengan cara profesional dan bermartabat.
" Apa yang ditemukan hari ini, kenapa teroris terus ada, karena penegakan hukumnya amburadul. Hanya kepuasan golongan tertentu saja. Saya kira penegakan hukum harus dilakukan secara baik yang secara prinsip berlaku bagi siapapun," kata dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya