Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Konferensi Pers Hasil Autopsi Jenazah Siyono Di Kantor Komnas HAM (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Dream - Proses autopsi yang dijalankan oleh Tim Dokter Forensik Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terhadap jenazah Siyono, terduga teroris yang tewas saat dalam penanganan Densus 88 dinyatakan selesai.
Hasil autopsi yang dibuka ke publik menyebutkan, kematian Siyono terjadi karena luka di bagian dada akibat pukulan benda tumpul.
Ketua Tim Dokter Forensik Muhammadiyah dr Gatot Suharto menemukan luka intravital pada tubuh Siyono. Meski begitu, Gatot enggan merinci bagaimana bentuk luka itu, karena dibatasi kode etik kedokteran.
" Yang pasti luka itu akibat kekerasan tubuh ketika almarhum Siyono masih hidup," kata Gatot di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin, 11 April 2016.
Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siane Indriani mengatakan, penyebab utama kematian pria yang ditangkap di Klaten itu adalah patahan tulang dada yang menusuk hingga jantung.
" Tulang dada patah. Ini yang kemudian mengarah ke jantung dan mengakibatkan kematian yang cukup fatal. Titik kematian di situ," kata Siane.
Menurut Siane, berdasarkan hasil uji forensik yang dilakukan oleh sepuluh dokter ahli, ditemukan lima ruas tulang iga bagian kiri patah. Sementara di rongga dada bagian kanan ditemukan luka patah tulang yang keluar.
Selain itu, dokter forensik juga menemukan luka di bagian kepala. Meski begitu, Siane menyebut, luka tersebut tidak menyebabkan pendarahan.
" Jadi memang ada luka di bagian kepala tapi tidak menyebabkan kematian. Di situ tidak terlalu banyak pendarahan," ujar dia.
Dari seluruh rangkaian autopsi yang dilakukan, Siane mengatakan tidak ada indikasi perlawanan dari Siyono. Bahkan, kata Siane, ditemukan dugaan jika Siyono dihantam benda tumpul dengan kondisi punggung bersandar pada bahan yang keras.
" Dari luka-luka yang diteliti, tidak ada perlawanan dari Siyono. Tidak ada luka defensif dari Siyono," ucap dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya