AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Ternak Mati Di Gunung Kidul (Liputan6.com)
Dream - Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, kembali mengalami kejadian misterius. Sejumlah hewan ternak ditemukan mati dengan kondisi luka. Kejadian ini bahkan dilaporkan sudah berlangsung selama sepekan dan belum ditemukan penjelasan sumber penyebabnya
Dalam sepekan lalu, tercatat 15 ekor kambing milik warga Kelurahan Purwodado, Tepus, mati dan terluka secara misterius.
Lurah Purwodadi, Sagiyano, menyatakan belum diketahui penyebab kematian puluhan kambing milik warga. Tetapi, banyak yang menduga penyebabnya adalah anjing-anjing liar yang sempat dilepaskan penduduk untuk mengusir kera ekor panjang.
" Hewan itu seperti apa tidak ada yang tahu, tapi banyak warga menduga ini sejenis anjing atau serigala," ujar Sagiyanto.
Kambing yang mati ditemukan di dua lokasi berbeda. Dari 15 ekor yang mati dalam sepekan lalu, tujuh ekor ditemukan di satu kandang, tiga ekor di kandang lain, dan lima ekor mengalami luka.
" Yang mati tiga dan yang hidup lima," kata Sagiyanto.
Lantaran takut ada hewan ternak yang mati, warga memutuskan menjual kambing yang tersisa. Mereka tidak mau mengalami kerugian lebih besar.
Menurut Sagiyanto, peristiwa seperti ini terjadi secara berulang di tiap tahun di bulan Juli hingga September. Tiga tahun lalu, teror hewan liar menyebabkan ratusan ekor kambing mati.
Sebagai langkah antisipasi, banyak warga membawa pulang ternaknya dan tidak lagi ditempatkan di kandang dengan jarak 4-5 kilometer dari rumah. Selain itu, warga kerap menggelar patroli.
Sagiyanto mengatakan terdapat laporan warga patroli yang menembak mati dua ekor anjing liar dengan senapan angin. Dia berharap serangan hewan liar dapat berhenti.
Sementara Balai Konservasi Sumber Daya Alam DIY akan memasang kamera CCTV di sejumlah titik. Sehingga, pergerakan dapat dipantau lewat kamera.
Kepala BKSDA DIY, Muhammad Wahyudi, mengatakan hingga saat ini belum diketahui penyebab kematian puluhan hewan ternak tersebut. Meski warga banyak menyebut akibat anjing liar, dia belum bisa mengambil kesimpulan.
" Tapi yang pasti kalau sudah ketahuan seperti apa jenis hewannya, maka akan lebih mudah dalam penanganannya. Termasuk bagaimana untuk mengondisikan ternak warga agar tidak ada lagi serangan hewan liar," kata Wahyudi, dikutip dari Merdeka.com.
Advertisement
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli


Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?

Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya