Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Liputan6.com)
Dream - Afrika Selatan dilaporkan telah menemukan varian baru virus Covid-19 yang mengandung banyak mutasi. Varian ini dikenal dengan nama C.1.2 dan pertama kali terdeteksi pada Mei 2021.
Temuan tersebut teridentifikasi pada periode gelombang ketiga pandemi Covid-19 yang menyerang negara tersebut. Varian itu ditemukan para peneliti dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) dan Platform Inovasi dan Sekuensing Penelitian KawaZulu-Natal.
Sejak terdeteksi di Afrika Selatan dan tujuh negara lainnya seperti Afrika, Eropa, Asia, dan Oseania, para peneliti langsung melaporkannya melalui server medRxiv.
Menyandur dari News18, Selasa 31 Agustus 2021, varian tersebut telah berevolusi dari C.1, salah satu garis keturunan yang mendominasi gelombang pertama SARS-CoV-2 di Afrika Selatan dan terakhir terdeteksi pada Januari 2021.
Kekhawatiran muncul karena varian baru tersebut mengandung banyak mutasi yang terkait dengan varian-varian virus Corona lain dengan tingkat penularan dan penurunan sensitivitas tehadap antibodi penetralisir atau vaksin.
" Adanya peningkatan transmisibilitas dan mempengaruhi penurunan sensitivitas antibodi," tulis tim peneliti, salah satunya Cathrine Scheeper dari NICD, dalam laporan mereka.
Menurut penelitian yang dilakukan NICD, varian C.1.2 memiliki 41,8 mutasi per tahun. Berarti, varian baru tersebut bermutasi 1,7 kali lebih cepat dari tingkat global saat ini dan 1,8 kali lebih cepat dari perkiraan awal evolusi SARS-CoV-2.
Percepatan evolusi ini dikaitkan dengan munculnya varian Alpha, Beta, dan Gamma. Sehingga, menunjukkan bahwa satu peristiwa dapat diikuti tingkat mutasi yang lebih cepat.
Sekitar 52 persen lonjakan kasus di Afsel, diidentifikasi akibat C.1.2. Tetapi juga bersamaan dengan varian lain seperti D614G, N501Y, E484K dan N5017.
Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menemukan peningkatan yang konsisten dalam jumlah genom C.12 di Afrika Selatan setiap bulan yakni meningkat dari 0,2 persen pada Mei menjadi 1,6 persen pada Juni dan 2,9 persen pada Juli.
Para peneliti menyebutkan, peningkatan itu mirip dengan varian Beta dan Delta di Afrika Selatan.
" Hingga kini masih diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan seberapa baik varian baru dinetralkan oleh antibodi," jelas Scheepers.
(Sumber: news18)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya