Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Yuli, Warga Serang Meninggal Usai Dua Hari Hanya Konsumsi Air Galon (Merdeka.com/Dwi Prasetya)
Dream - Seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, Yuli, menghembuskan napas terakhirnya pada Senin, 20 April 2020. Diketahui dia sempat menahan lapar selama dua hari dan hanya meminum air galon.
Keluarga Yuli terkena imbas pandemi virus corona. Mereka tidak punya pemasukan untuk bertahan hidup lantaran kehilangan pekerjaan
Camat Serang, Tb. Yassin mengkonfirmasi berita tersebut. Dia mengatakan Yuli dinyatakan meninggal pukul 15.30 WIB.
" Infonya saya dari Pak Lurah, melalui telepon. Saya setengah empat ke lokasi (rumah almarhum)," ujar Yassin, dikutip dari Merdeka.com.
Yassin mengatakan penyebab meninggalnya Yuli belum diketahui secara persis. Dia baru mendapatkan informasi, Yuli meninggal saat akan dibawa menuju Puskesmas Singandaru.
" Saya kurang tahu itu karena apanya. Yang saya tahu itu ketika almarhum sedang dibawa ke Puskesmas Singandaru, sebelum sampai sudah tidak ada nyawa," kata dia.
Yassin mengaku sempat mendatangi rumah Yuli pada Minggu, 19 April 2020. Saat itu, kata dia, kondisi Yuli masih bugar.
" Segar kok. Sempat berbicara, sempat foto. Minggu, Senin kemudian, saya dapat kabar dari Pak Lurah, yang bersangkutan sudah di Puskesmas Singandaru dan kondisi sudah meninggal," ucap Yassin.
Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Serang, W Hari Pamungkas menduga Yuli meninggal akibat serangan jantung, bukan kelaparan. Dia memastikan penyebab meninggalnya Yuli bukan karena terinfeksi virus corona.
" Visum resmi besok akan disampaikan, saya pastikan bukan terkait sama Covid, bukan karena kelaparan, tapi karena serangan jantung. Yang bersangkutan dapat pertanyaan berat dari orang sekelilingnya. Visum resmi akan disampaikan Puskesmas besok, tapi saya tanya dokternya diduga jantung," kata Hari.
Hari mengatakan dari laporan yang dia terima, almarhumah merupakan keluarga yang mampu dan sangat mungkin untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
" Kesehariannya dari laporan aparat wilayah setempat berasal dari keluarga mampu semuanya, artinya untuk beli rokok sama nasi tuh masih sanggup," ujar dia.
Hari mengatakan bahwa keluarga almarhumah masuk dalam status Jaring Pengaman Sosial (JPS) Kota Serang. Pemerintah Kota (Pemkot) Serang sudah memberikan bantuan sembako pada 18 April 2020.
" Bantuan telah diberikan dan setelah dicek termasuk dalam pendataan JPS. Artinya dalam sisi tanggungjawab pemerintah, kami gerak cepat untuk menyelesaikan permasalahan itu," katanya.
Menurut informasi yang didapat, Yuli mengalami kesulitan dalam memenuhi kebetuhan keluarga. Bahkan selama dua hari, Yuli dan keempat anaknya tidak bisa makan.
Demi menahan rasa lapar, dia dan keluarga hanya meminum air galon isi ulang.
" Dua hari ini kami cuma minum air galon isi ulang. Anak-anak bilang lapar juga, paling minum air saja," kata Yuli, pada Jumat pekan lalu.
Yuli mengadu pada Rukun Tetangga (RT) setempat dan meminta bantuan sembako. Tetapi, pihak RT mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah.
" Saya sudah datang ke RT. Katanya enggak bisa dapat bantuan," ungkap Yuli.
Untuk menyambung hidup, sang suami kerap mencari barang bekas. Hasilnya bisa membawa uang ke rumah kisaran Rp25-Rp30 ribu.
" Lumayan saja, satu hari kadang dapat Rp25-30 ribu. Beli beras satu liter untuk kami berenam, itu pun diirit-irit," ujarnya.
Sebelum virus corona melanda, kehidupan keluarga Yuli terbantu oleh anak sulungnya yang memiliki pekerjaan. Tetapi, harapan tersebut sirna lantaran sang anak telah diberhentikan dari pekerjaannya.
" Tadinya anak saya kerja. Sekarang dirumahkan karena tempat kerjanya tutup. Tambah, gaji terakhir tidak diberikan," tuturnya.
Sumber: Merdeka.com/Dwi Prasetya
Dream - Sekitar 240 orang dikenakan denda akibat kedapatan melanggar aturan lockdown saat belanja di pasar pada Minggu, 19 April 2020.
Mereka dikenai denda 300 dolar Singapura, setara Rp3 juta akibat tidak menjaga jarak dengan orang lain. Sedangkan 120 orang dari jumlah itu terkena denda berlipat.
Mereka diharuskan membayar 300 dolar Singapura karena tidak mengenakan masker saat keluar rumah.
Singapura sendiri telah menerapkan aturan ketat selama masa lockdown sejak 7 April lalu. Setiap pelanggaran akan dikenai denda cukup tinggi.
Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura, Masagos Zulkifi, mencatat di hari yang sama, ada lebih dari 10 orang terkena denda 1.000 dolar Singapura, setara Rp10 juta per kepala.
Penyebabnya, mereka melakukan pelanggaran berulang terhadap aturan semi lockdown.
Kebanyakan pelanggaran yang terjadi yaitu tidak jaga jarak serta tidak memakai masker di tempat umum. Masagos juga menyebut antrean panjang juga muncul di sejumlah pasar saat akhir pekan.
" Pada jam 8 pagi ini, misalnya, ada sekitar 200 orang yang antre di Pasar Geylang Serai, dan rata-rata waktu tunggu untuk masuk ke pasar setidaknya 30 menit," ujar Masagos, dikutip dari Asiaone.
" Sementara itu, di Pasar Tekka tidak ada antrean, dan pada 505 Jurong Barat, antreannya pendek dan bergerak cepat dan butuh kurang dari 10 menit untuk masuk ke pasar," terang dia.
Masagos mengaku prihatin karena pasar modern terus menjadi tempat orang berkumpul dalam waktu lama. Hal ini menjadi kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.
" Jika kita membiarkan pertahanan kita turun sesaat, mungkin saja itu dapat mengakibatkan kelompok infeksi Covid-19 yang lain," tambah Masagos.
" Sangat penting bahwa kita semua melakukan yang terbaik untuk meminimalkan kepadatan dengan mengunjungi selama jam sibuk, pada hari kerja, atau pergi ke pasar yang kurang populer," ucap dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya