Indonesia Kutuk Kampanye Israel Caplok Tepi Barat Palestina

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 17 September 2019 11:01
Indonesia Kutuk Kampanye Israel Caplok Tepi Barat Palestina
Aksi Israel melanggar hak azasi manusia.

Dream - Indonesia mengutus upaya pencaplokan wilayah Tepi Barat Palestina yang dilakukan Israel. Pernyataan keras pemerintah itu disampaikan dalam Sidang Luar Biasa Tingkat Menteri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

“ Indonesia memandang janji kampanye di Israel terkait aneksasi wilayah Tepi Barat Palestina sebagai tindakan yang tidak mengindahkan hukum internasional, dan bentuk nyata pelanggaran terhadap resolusi-resolusi PBB,” ujar Dirjen Kerja Sama Multilateral, Kementerian Luar Negeri, Febrian A. Ruddyard, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 16 September 2019.

OKI menggelar sidang luar biasa tingkat menteri, dua hari sebelum berlangsungya Pemilu di Israel. Pertemuan digelar untuk merespon pernyataan Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu terkait rencana aneksasi atau pencaplokan Tepi Barat Palestina.

“ Resolusi DK PBB Nomor 2334 tahun 2016 secara jelas menyatakan bahwa perubahan terhadap garis batas tahun 1967 tidak diakui oleh DK PBB,” kata dia.

Indonesia mengharapkan, OKI dapat menyerukan kepada masyarakat internasional untuk dapat memberikan dukungan kepada Palestina dan tidak mengakui tindakan illegal Israel.

Febrian juga menyampaikan rencana aneksasi Israel sangat terkait dengan isu hukum dan kemanusiaan.

Proyek pembangunan pemukiman di wilayah Palestina merupakan salah satu kendala terhadap progres negosiasi, serta menyebabkan pelanggaran terhadap hak asasi masyarakat Palestina.

Pertemuan selama satu hari tersebut yang dihadiri delapan Menteri dari Negara OKI menghasilkan komunike bersama yang berisikan kecaman kepada Israel dan dukungan kepada rakyat Palestina.

1 dari 5 halaman

Raja Salman Kecam Tindakan Israel Caplok Tepi Barat Palestina

Dream - Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, mengecam keinginan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang ingin mencaplok sebagian besar Tepi Barat seandainya terpilih kembali.

Dalam panggilan telepon dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Raja Salman mengatakan deklarasi Benjamin Netanyahu merupakan eskalasi yang sangat berbahaya terhadap rakyat Palestina.

Raja Salman menyebut, keinginan itu sebagai pelanggaran terhadap piagam PBB dan norma-norma internasional.

Dilaporkan Arab News, Abbas mengapresiasi perhatian Raja Salman. Sebab, kondisi itu dapat mengangkat perjuangan Palestina.

Abbas juga memuji sikap Kerajaan Arab Saudi yang konsisten dan tegas mendukung perjuangan rakyat Palestina di KTT dan forum regional dan internasional.

Kementerian Luar Negeri Palestina mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada Israel dan meminta pertanggungjawaban atas pelanggaran berat hukum internasionalnya.

2 dari 5 halaman

Kabar Terbaru Pemuda Palestina Mahasiswa Harvard yang Ditolak Masuk AS

Dream - Ismail Ajjawi akhirnya bisa kuliah di Universitas Harvard. Sebelumnya, pemuda Palestina itu ditolak masuk oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat.

Menurut laman CBS, Juru Bicara Universitas Harvard, Rachael Dane, mengatakan bahwa Ajjawi telah berada di kampus ternama dunia tersebut.

Pengacara Ajjawi mengatakan peristiwa yang dialami oleh kliennya sebagai " kisah drama klasik dengan pengecualian unik di akhir ceritanya" . Dia berterima kasih ke Universitas Harvard dan organisasi non-laba AMIDEAST, Kedutaan Besar AS di Beirut, dan dukungan publikasi media internasional.

Ajjawi sempat tak diizinkan masuk ke Amerika Serikat oleh otoritas imigrasi Bandara Logan Boston. Pers mahasiswa Harvard, The Harvard Crimson, melaporkan, Ajjawi merupakan pemuda 17 tahun asal Palestina yang tinggal di Tyre, Lebanon.

 Ismail Ajjawi (Foto: CBS)

Ismail Ajjawi (Foto: CBS)

Menurut laporan itu, Ajjawi ditahan selama delapan jam sebelum dipulangkan. Selama penahanan, Ajjawi dicecar pertanyaan, ponsel dan laptopnya yang terkunci dibuka dan data di dalamnya diperiksa.

Ajjawi kemudian dituduh `telah menentang kepentingan politik AS`. Dasar tuduhan itu berasal dari akun yang dia ikuti di media sosial. Setelah interogasi, visa Ajjawi dicabut dan dikirim pulang ke Lebanon.

Presiden Harvard, Lawrence Bacow, menulis surat terbuka ke Menteri Luar Negeri, Michael Pompeo dan Pejabat Sekretaris Keamanan Dalam Negeri, Kevin McAleenan. Surat itu berisi keprihatinan atas kebijakan imigrasi AS dan pengaruhnya terhadap program akademik Harvard.

3 dari 5 halaman

Pemuda Palestina Calon Mahasiswa Universitas Harvard Ditolak Masuk AS

Dream - Seorang pelajar Palestina yang diterima di Universitas Havard ditolak masuk Amerika Serikat (AS). Pelajar bernama Ismail Ajjawi itu diberendong banyak hal, semisal praktik keagamaan dan aktivitas pertemanan di media sosial oleh petugas imigrasi bandara Amerika Serikat (AS).

Ismail, dilaporkan Al Jazeera, tinggal mengungsi di Lebanon. Dia dianugerahi beasiswa sarjana Hope Fund dari lembaga nirlaba Amideast.

Ismail mendarat di Bandara Internasional Bogan Logan dan dipulangkan Jumat, 30 Agustus 2019.

Juru bicara Perlindungan Pabean dan Perbatasan (CBP) AS, Michael McCarthy mengatakan, Ajjawi dianggap tidak dapat diterima oleh AS berdasarkan informasi yang ditemukan selama inspeksi.

" CBP bertanggung jawab untuk memastikan keamanan dan penerimaan barang dan orang yang memasuki Amerika Serikat," kata dia.

 

4 dari 5 halaman

Tidak Mengunggah Hal Politis

Ajjawi mengatakan dia diinterogasi oleh petugas imigrasi selama berjam-jam. Dia diminta membuka kunci telepon dan laptopnya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

" Setelah lima jam berakhir, dia memanggil saya ke sebuah ruangan dan dia mulai berteriak kepada saya. Dia mengatakan bahwa dia menemukan orang-orang mem-posting sudut pandang politik yang menentang AS dalam daftar teman saya," katanya kepada surat kabar Harvard Crimson.

Ajjawi mengatakan, dia telah mengatakan ke petugas CBP bahwa dia tak mengunggah hal-hal politis. Dia mengatakan, visanya kemudian dicabut dan dia sekarang kembali ke Libanon.

" Universitas bekerja dengan keluarga mahasiswa dan otoritas yang sesuai untuk menyelesaikan masalah ini sehingga dia dapat bergabung dengan teman-teman sekelasnya dalam beberapa hari mendatang," Jason Newton, associate director hubungan media di Harvard, mengatakan kepada Al Jazeera.

5 dari 5 halaman

Keprihatinan Luar Biasa

Sejak 2000, lebih dari 100 orang pemuda Palestina dari Tepi Barat, Gaza, Lebanon, dan Yordania, mendapat beasiswa dari Amideast untuk berkuliah di AS.

Tapi, sejak bulan lalu, Rektor Universitas Harvard, Laurence Bacow, menyuarakan kerprihatinan tentang penundaan dan penolakan visa baru-baru ini bagi siswa internasional ke Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Departemen Dalam Negeri AS menolak 37 ribu aplikasi visa pada 2018. Penolakan ini karena pemerintahan Trump membuat penolakan bernama `larangan untuk Muslim.`

Elsa Auerbach, anggota kelompok advokasi Jewish Voice for Peace Boston, mengatakan kasus Ajjawi sebagai `satu lagi tindakan agresi oleh pemerintah AS saat ini`.

" Tindakan ini mewujudkan rasisme xenofobik yang merupakan inti dari kebijakan imigrasi AS saat ini, kebijakan yang memberanikan petugas imigrasi untuk melanggar hak-hak mereka yang ingin memasuki negara ini bahkan ketika mereka memiliki dokumen yang sah," katanya.

Beri Komentar
Catat! Tips Tampil dengan Makeup Bold Ala Tasya Farasya-