Mengapa Alquran Diterjemahkan dalam Bahasa Banyumasan?

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 3 Desember 2015 18:29
Mengapa Alquran Diterjemahkan dalam Bahasa Banyumasan?
Kementerian Agama menerjemahkan Alquran ke dalam sembilan bahasa daerah. Salah satunya adalah Bahasa Banyumasan.

Dream - Kementerian Agama meluncurkan Alquran yang diterjemahkan ke dalam sembilan bahasa daerah. Salah satu bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Banyumasan.

Pemilihan Bahasa Banyumasan ini cukup menarik. Sebab, di Pulau Jawa yang lebih dominan digunakan adalah Bahasa Jawa. Namun Kemenag malah memilih menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Banyumasan. Mengapa?

“ Bahasa Banyumas itu bahasa yang lebih tua ketimbang Bahasa Jawa yang sekarang dipakai,” kata Ahmad Thohari, budayawan yang terlibat dalam tim penerjemah Alquran Kementerian Agama di Jakarta, Kamis 3 Desember 2015.

“ Bahasa Banyumasan telah ada sejak abad ke-7. Di abad ke-16 mulai dipolitisasi pendiri Kerajaan Mataram dengan mengubah bahasa Kuna yang punya strata bahasa,” tambah Thohari.

Bahasa Banyumasan, kata dia, dipilih untuk menerjemahkan Alquran sebagai upaya melestarikan bahasa yang berasal dari Jawa Kuna ini. Sebab, saat ini banyak yang tidak tahu bahwa bahasa ini sebenarnya merupakan bahasa asli masyarakat Jawa sebelum munculnya pengaruh Kerajaan Mataram.

Thohari mengaku cukup kesulitan saatmenelusuri makna sejumlah kata yang diterjemahkan. Sebab, Bahasa Banyumasan sudah sangat jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. “ Saat menerjemahkan kisah Nabi Luth, ada kesulitan mengartikan kata homoseks atau sodomi,” kata dia.

“ Sebab, tidak ada orang Banyumas yang tahu istilah khususnya. Misalnya, sodomi itu punya istilah khusus yaitu 'njambu'. Adapun lesbian disebut dengan 'gerus lumpang',” tambah penulis novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ ini.

Thohari mengapresiasi penerjemahan Alquran ke dalam bahasa ibu ini. Dia berharap penerjemahan ini dapat menjadi langkah jangka panjang untuk pelestarian budaya dan suku.

“ Bahasa itu kan terkait suku. Nah, konservasi pelestarian suku itu perlu, seperti yang ada di Surat Al Hujarat. Keberagaman itu harus tetap ada, sehingga dengan begitu ayat suci tidak akan kehilangan eksistensinya,” ucap dia.

Dia menambahkan, penerjemahan Alquran ke dalam bahasa daerah ini tidak akan mengurangi kesucian Alquran. Penerjemahan ini justru akan menambah sisi emosional masyarakat lokal.

“ Ketika bahasa ibu membawa bahasa langit, maka akan lebih awet, abadi karena masyarakat Islam akan menjaga kalimatnya. Lagipula sudah saatnya kita mulai melestarikan bahasa ibu yang demokratis tanpa strata,” jelas Thohari.

Beri Komentar