Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Pemblokiran Situs Twitter, Youtube Dan Facebook Di Irak (Mashable.com)
Dream - Krisis yang hingga kini masih menghampiri Irak ternyata berpengaruh pada kebebasan warga dalam mengakses internet. Sebagai upaya menghadapi pemberontakan yang tak kunjung berakhir, pemerintah Irak memutuskan memblokir akses ke sejumlah situs sosial media.
Sejak Jumat 13 Juni 2014, pemerintah Irak melalui Kementrian Komunikasi secara resmi memblokir akses ke situs kenamaan seperti Google, Youtube, Facebook, dan Twitter.
Pemerintah merasa perlu melakukan langkah ini untuk meminimalisir propaganda yang dilancarkan kelompok 'Islamic State of Iraq and the Levant (ISIS)'. Kelompok radikal ini berbasis di wilayah utara Irak dan berupaya untuk memisahkan diri dari pemerintah yang berdaulat.
Menanggapi keputusan pemerintah Irak, juru bicara Facebook seperti dilaporkan Mashable, sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. " Membatasi akses ke berbagai layanan internet adalah sebuah keprihatinan yang mengganggu kepentingan komunikasi atau bisnis jutaan orang" .
Senada dengan tanggapan Facebook, juru bicara Youtube pun menyebut jika diblokirnya akses layanan milik Google itu bukan disebabkan oleh masalah teknis. Melainkan karena situasi politik dan keamanan negara yang sedang memanas. Sementara juru bicara Twitter saat ini menyebut tengah mempelajari laporan pemblokiran yang diterima perusahaan.
Cyber Arab, organisasi yang berbasis di Lebanon yang bertugas memantau kebebasan akses internet dan memberikan pelatihan cybersecurity di negara-negara Timur Tengah menegaskan, sejumlah situs sosial media hingga saat ini masih diblokir di Irak.
Sebagai informasi, kelompok radikal ISIS baru-baru ini telah melakukan pemberontakan di sejumlah kota besar di Irak, termasuk ibu kota Baghdad. Menanggapi pemberontakan yang kian meluas, pihak pemerintah di bawah komando Perdana Menteri Noudi al-Maliki memutuskan untuk membatasi pergerakan dan penyebaran propaganda oleh ISIS.
Kabarnya ISIS kerap memanfaatkan akses media sosial untuk menyebarluaskan informasi dan menentang keputusan pemerintah yang berdaulat. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya