Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jembatan Beton Yang Baru Selesai Dibangun Di Desa Jagabita (PPPA Daarul Quran)
Dream - Warga Desa Jagabita, Parung Panjang, Bogor, kini bisa bernapas lega. Mereka tak lagi terisolir lantaran sudah ada jembatan beton yang menghubungkan Jagabita dengan kampung sebelah yaitu Desa Bojong Bitung, Legok, Tangerang.
Jembatan tersebut dibangun atas dana sedekah yang diinisiasi PPPA Daarul Quran. Mulai dibangun pada Agustus 2017, jembatan tersebut kini telah sepenuhnya dapat digunakan masyakarat.
" Melalui program Jembatan Kehidupan, PPPA berupaya membantu kesulitan masyarakat yang daerahnya belum tersentuh tangan-tangan pemerintah, wilayah terisolir dan mengalami ketimpangan ekonomi, sosial, serta pendidikan sehingga desa tersebut tumbuh mandiri," ujar Direktur Eksekutif PPPA Daarul Quran, Tarmizi As Sidiq, melalui keterangan tertulis diterima Dream.

Warga Jagabita sendiri sudah hampir 100 tahun tidak memiliki jembatan beton. Selama ini, jembatan dibangun menggunakan konstruksi bambu seadanya
Jembatan yang digunakan warga untuk melintas Sungai Cimanceuri hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dan sepeda motor. Jika ingin menyeberang, warga harus bergantian.
Selain itu, warga juga harus berhati-hati ketika menyeberang jembatan. Ini karena kondisi jembatan yang rapuh sehingga bisa membuat orang mudah tergelincir dan tercebur ke sungai.
Setiap tahun, jembatan harus diperbaiki dengan dana hasil patungan warga seadanya. Ini lantaran jembatan mudah rusak terkena air.

Apalagi jika hujan tiba, warga tidak berani melintas. Ini karena tanah di Desa Jagabita adalah tanah merah sehingga membuat jembatan licin ketika dilalui.
Ditambah lagi ketika air sungai meluap, bisa menghanyutkan jembatan. Alhasil, aktivitas keseharian maupun pendidikan dan ekonomi masyarakat Jagabita terhambat.
Selanjutnya, kata Tarmizi, jembatan ini dibangun dengan melibatkan warga secara langsung. " Kearifan lokal yang dibangun oleh PPPA Daarul Quran bertujuan agar warga turut menjaga keberadaan dan kelestarian jembatan baru ini," kata Tarmizi.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya