Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Ilustrasi
Dream - Kelelawar merupakan hewan diklaim menjadi pembawa virus corona yang menggemparkan dunia. Tim peneliti University of Saskatchewan (USask), mereka telah mengungkap bagaimana kelelawar dapat membawa sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) tanpa menjadi sakit. Penelitian ini pun menjelaskan bagaimana coronavirus membuat lompatan ke manusia dan hewan lain.
Dilansir dari Science Daily, virus corona seperti MERS, Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), dan baru-baru ini virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19, diperkirakan berasal dari kelelawar. Walaupun virus-virus ini dapat menyebabkan penyakit serius dan seringkali fatal pada manusia, untuk alasan yang sebelumnya tidak dipahami dengan baik, kelelawar yang menjadi pembawa virus tidak ikut tertular.
" Kelelawar tidak menyingkirkan virus dan tidak sakit. Kami ingin memahami mengapa virus MERS tidak mematikan respons kekebalan kelelawar seperti pada manusia," kata ahli mikrobiologi USask, Vikram Misra.
Dalam penelitian yang baru saja diterbitkan dalam Scientific Reports, tim peneliti menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa sel-sel dari kelelawar pemakan serangga dapat terinfeksi secara terus-menerus terhadap MERS virus corona selama berbulan-bulan. Ini terjadi akibat adaptasi tubuh kelelawar terhadap virus tersebut.
" Alih-alih membunuh sel-sel kelelawar seperti yang dilakukan virus corona dengan sel manusia, virus MERS corona malah berkembang dalam sistem kekebalan kelelawar yang unik," ungkap Misra." Pada SARS-CoV-2 diperkirakan cara kerjanya juga sama.
![]()
Peneliti menemukan bahwa tekanan stres pada kelelawar (seperti penyakit dan kemungkinan hilangnya habitat) mungkin memiliki peran dalam penyebaran virus corona ke spesies lain.
" Ketika kelelawar mengalami stres pada sistem kekebalan tubuh mereka, hal itu akan mengganggu keseimbangan sistem kekebalan-virus dan memungkinkan virus berkembang biak," katanya.
Penelitian ini dilakukan di Organisasi Vaksin dan Penyakit Menular USask - Pusat Vaksin Internasional (VIDO-InterVac), salah satu fasilitas penelitian level 3 penahanan terbesar di dunia, oleh tim peneliti dari Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan USask dan VIDO-InterVac .
" Kami melihat bahwa coronavirus MERS dapat dengan cepat beradaptasi dengan ceruk tertentu, dan meskipun kami tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, ini menunjukkan bagaimana coronavirus dapat melompat dari satu spesies ke spesies dengan begitu mudah," kata ilmuwan VIDO-InterVac Darryl Falzarano. Falzarano ikut memimpin studi tentang kelelawar dan mengembangkan pengobatan potensial pertama untuk MERS-CoV, dan memimpin upaya VIDO-InterVac untuk mengembangkan vaksin melawan Covid-19.
Sejauh ini, virus SARS-CoV-2 telah menginfeksi lebih dari 3,5 juta orang di seluruh dunia dan membunuh tujuh persen dari mereka yang terinfeksi. Sebaliknya, virus MERS menginfeksi hampir 2.500 orang pada tahun 2012 tetapi membunuh satu dari setiap tiga orang yang terinfeksi. Tidak ada vaksin untuk SARS-CoV-2 atau MERS.
Menurut Misra, virus Corona cepat beradaptasi dengan spesies yang mereka infeksi. Sebuah studi yang dipimpin USask pada tahun 2017 menunjukkan bahwa virus corona di kelelawar dapat bertahan selama setidaknya empat bulan hibernasi.
Ketika terpapar virus MERS, sel-sel kelelawar beradaptasi (bukan dengan memproduksi protein penyebab peradangan yang merupakan tanda sakit, tetapi dengan mempertahankan tanggapan antivirus alami, yang pada spesien lain, fungsi tersebut dimatikan). Secara bersamaan, virus MERS juga beradaptasi dengan sel-sel inang kelelawar dengan sangat cepat.
Adaptasi ini menghasilkan virus yang tersisa dalam jangka panjang di kelelawar tetapi dianggap tidak berbahaya sampai penyakit atau pemicu stres lainnya mengganggu keseimbangan ini.
Selanjutnya, tim akan mengalihkan fokusnya untuk memahami bagaimana virus MERS dari kelelawar beradaptasi dengan infeksi dan replikasi pada unta dan sel manusia.
" Informasi ini mungkin penting untuk memprediksi virus kelelawar berikutnya yang akan menyebabkan pandemi," kata Misra.
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?