Kemenag: Program Penceramah Bersertifikat Bukan Sertifikasi Profesi

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 7 September 2020 19:00
Kemenag: Program Penceramah Bersertifikat Bukan Sertifikasi Profesi
Para penceramah sebatas mendapatkan sertifikat usai mengikuti kegiatan Kemenag dan tidak berkonsekuensi apapun.

Dream - Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin, mengatakan bahwa program penceramah bersertifikat bukan untuk sertifikasi profesi. Program itu untuk peningkatan kapasitas penceramah.

" Penceramah bersertifikat ini bukan sertifikasi profesi, seperti sertifikasi dosen dan guru. Kalau guru dan dosen itu sertifikasi profesi sehingga jika mereka sudah tersertifikasi maka harus dibayar sesuai standar yang ditetapkan," ujar Kamaruddin dalam keterangant tertulis yang diterima Dream.

Penceramah bersertifikat, kata Kamaruddin, merupakan kegiatan biasa laiknya penyuluh. Setiap kali ada kegiatan, maka penceramah akan mendapatkan sertifikat.

" Kalau penceramah bersertifikat, ini sebenarnya kegiatan biasa saja untuk meningkatkan kapasitas penceramah. Setelah mengikuti kegiatan, diberi sertifikat," kata dia.

1 dari 4 halaman

Peningkatan Kapasitas Penceramah

Program ini, kata Kamaruddin, dijalankan seperti program peningkatan kapasitas penyuluh agama dan penghulu oleh Dirjen Bimas Islam. Data Bimas Islam mencatat saat ini ada 50 ribu tenaga penyuluh agama dan 10 ribu penghulu yang secara bertahap ditingkatkan kapasitasnya di bidang literasi tentang zakat, wakaf, moderasi beragama.

" Jadi ini sertifikasi biasa yang tidak berkonsekuensi apa-apa. Jadi bukan sertifikasi profesi sehingga ini tidak berkonsekuensi wajib atau tidak. Bukan berarti yang tidak bersertifikat tidak boleh berceramah, atau yang boleh berceramah hanya yang bersertifikat. Sama sekali tidak begitu," ucap dia.

Menurut Kamaruddin, sertifikasi sebatas memberikan afirmasi kepada para penceramah. Diharapkan melalui program ini, wawasan penceramah tentang agama dan ideologi bangsa dapat meluas.

" Jadi ini bukan sertifikasi, tapi penceramah bersertifikat," ujar dia.

2 dari 4 halaman

Tidak Wajib

Program penceramah bersertifikat juga berlaku untuk semua agama. Namun demikian, sifatnya tidak wajib dan mengikat.

Dalam pelaksanaannya, Kemenag akan bertindak selaku koordinator serta menjalin kerja sama dengan lembaga lain, seperti Lemhanas, BNPT, BPIP, ormas, serta majelis agama. Setiap lembaga negara dilibatkan berdasarkan otoritasnya masing-masing.

Seperti Lemhanas memiliki otoritas menjelaskan dan memberi penguatan wawasan penceramah tentang ketahanan negara, BPIP akan memperkaya perspektif tentang Pancasila sebagai dasar negara, sementara BNPT menjelaskan dinamika yang terjadi di kancah global maupun nasional tentang potensi destruktif terhadap perkembangan agama di Indonesia.

" Untuk Bimas Islam, target tahun ini 8.200 penceramah. Kemenag mengajak MUI bisa ikut memberikan materi," kata Kamaruddin.

3 dari 4 halaman

Kemenag Segera Gulirkan Program Penceramah Bersertifikat

Dream - Kementerian Agama segera menggulirkan program sertifikasi bagi penceramah. Program ini dijalankan dengan keterlibatan sejumlah pihak, seperti organisasi masyarakat (ormas) dan lembaga negara.

Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin, mengatakan, sebagai target awal, sebanyak 8.200 penceramah dapat mengikuti program ini. Sedangkan pelaksanaannya dilakukan secara kolaboratif dengan Kemenag sebagai koordinator dan fasilitator.

" Program penceramah bersertifikat akan melibatkan banyak pihak, termasuk Lemhanas, BPIP, dan BNPT," ujar Kamaruddin melalui keterangan tertulis diterima Dream.

4 dari 4 halaman

MUI dan Ormas Islam

" Program ini juga akan melibatkan MUI dan ormas Islam lainnya," lanjut dia.

Untuk pemilihan narasumber, Kamaruddin menyatakan peran serta ormas dibutuhkan. Tujuan dari program ini untuk pengarusutamaan moderasi beragama.

" Inti program ini adalah penguatan wawasan kebangsaan dan pengarusutamaan pemahaman keagamaan rahmatan lil alamin," kata dia.

Beri Komentar