Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Aprilia Nuraida, Guru Relawan Di Pedalaman Sulawesi (dompetdhuafa.org)
Dream - Guru merupakan profesi yang mulia. Kalimat tersebut tampaknya benar-benar dipegang teguh oleh Aprilia Nuraida, sampai memutuskan untuk mengajar di pelosok negeri.
Aprilia asal Blitar, Jawa Timur ini merupakan alumnus Universitas Brawijaya Malang yang memilih mengikuti program Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa. Dia lalu ditugaskan untuk mengabdi di Dusun Patulang, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Selatan.
Dia sadar betul keterbatasan yang dialaminya di tempat mengabdi. Tetapi, dia sama sekali tidak merisaukan hal itu dan menjalani kehidupannya dengan gembira.
" Pertama datang ke sini saya memang mulai beradaptasi. Apalagi kalau air di sini lagi kekeringan, biasanya saya dan warga harus ke penampungan air bersih sekitar satu jam," kata Aprilia.
Di tempat tersebut, Aprilia mengajar di tiga sekolah sebagai guru relawan, yaitu di SDN 032 Ambopadang, SMPN 02 Tutallu, dan SMKN 1 Tutallu. Untuk berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, Aprilia harus menempuh medan yang cukup berat.
Dia harus melalui jalanan berbatu dikelilingi perbukitan dan jurang yang begitu curam. Jika tidak hati-hati, keselamatannya bisa terancam. Meski begitu, semangatnya untuk mengajar dan memberikan ilmu bermanfaat tidak pernah surut.
" Karena ada sesuatu yang baru buat saya. Saya suka tantangan, saya senang berbagi pengalaman saya terutama ilmu bermanfaat bagi anak-anak," ucap dia.
Saat mengajar, Aprilia menggunakan tiga metode, yang disebutnya sebagai metode mengajar cerdas dan kreatif. Metode tersebut yaitu home visit, les tambahan dan belajar di dalam serta di luar ruangan. Metode ini untuk membantu murid-muridnya memahami pelbagai mata pelajaran.
" Saya pernah terapkan metode kelompok belajar, tapi ternyata kurang efektif. Makanya saya coba tambahkan metode belajar sambil bermain, ternyata siswa-siswa saya antusias sekali," kata Aprilia.
Tidak hanya itu, Aprilia membuat sejumlah kegiatan bagi anak-anak lingkungan tempatnya tinggal dengan membangun istana anak. Selain itu, dia juga menggelar Malam Bina Taqwa untuk anak-anak setiap dua kali dalam sepekan.
Semangatnya untuk mencerdaskan anak bangsa begitu tinggi, meski keterbatasan kerap dia temui. Bagi dia, ilmu adalah investasi yang menjanjikan bagi anak-anak di masa depan.
" Ini tugas mulia dan saya yakin ini investasi akhirat. Mengabdi dengan rasa ketulusan akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri, bila dijalankan dengan tulus dan ikhlas," ucap dia.
(Ism, Sumber: dompetdhuafa.org)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya