Heboh Buku SD Cantumkan Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Rabu, 13 Desember 2017 19:00
Heboh Buku SD Cantumkan Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel
KPAI akan memanggil penerbit Yudhistira yang mencetak buku perlajaran tersebut.

Dream - Warga dunia kini tengah dihebohkan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel.

Saat isu itu masih memanas, kini warganet juga dihebohkan dengan beredarnya foto buku IPS kelas 6 SD yang mencantumkan Yerussalem sebagai ibu kota Israel.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengaku kecewa dengan lolosnya cetakan itu.

" Penulisan buku ajar yang ada kekeliruan isi bahkan substansi bukanlah kejadian pertama. Ini sudah terjadi kesekian kalinya," kata Retno dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Rabu, 13 Desember 2017.

Jika memang terjadi kesalahan, kata dia, merupakan suatu kelemahan pengawasan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terhadap buku-buku ajar.

" Kelemahan pengawasan mulai dari adanya konten kekerasan sampai pornografi, dan sekarang kekeliruan penulisan ibu kota Israel adalah Yerussalem," ucap dia.

Retno menegaskan, untuk mengumpulkan data dan penjelasan yang utuh dalam proses penyusunan buku hingga beredar, KPAI berencana memanggil penerbit Yudistira pekan depan.

" Pemanggilan dijadwalkan pada Senin, 18 Desember 2017, jam 13.30 WIB di KPAI," ujar dia.

Kepala Penerbit Yudhistira, Dedi Hidayat, dalam keterangan resminya mengucapkan permintaan maaf atas munculnya terbitan itu. Dedi mengatakan, data yang ditampilkan menjadi bahan materi itu didapat dari world population data sheet 2010.

" Kami tidak mengetahui kalau ternyata data tersebut masih menjadi perdebatan dan belum diakui secara internasional. Perlu kami sampaikan juga beberapa sumber di internet juga mencantumkan hal yang sama," kata Dedi.

" Berkenaan dengan hal tersebut di atas kami mohon maaf apabila sumber yang kami ambil dianggap keliru. Kami akan melakukan perbaikan atau revisi isi buku tersebut pada cetakan berikutnya," ucap Dedi.

Beri Komentar