Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi Tayangan Teevisi (bbc.com)
Dream - Tayangan sinetron Indonesia banyak menuai kritikan. Ini lantaran kebanyakan sinetron menampilkan adegan kekerasan yang berbahaya bagi tumbuh kembang anak.
Melihat persoalan ini, komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfah Anshor mendesak pengelola stasiun televisi menghentikan tayangan sinetron dengan muatan kekerasan dan tidak mendidik.
" Banyak tayangan sinetron dengan tindakan kekerasan yang berdampak maka anak akan mengikutinya," ujar Maria di Jakarta, seperti dikutip Dream, Jumat, 5 Februari 2016.
Maria mengatakan pada fase tumbuh kembang, anak memiliki kecenderungan meniru apa yang dilihat, didengar, dirasakan. Sayangnya, banyak dari stasiun televisi seolah tidak peka melihat kebutuhan itu dengan menayangkan sinetron tidak mendidik.
Meski begitu, kesadaran mengenai tayangan yang bermutu itu mulai tumbuh. Ini terlihat dengan banyaknya aduan ke KPAI terkait dengan tayangan yang tidak mendidik tersebut untuk dicabut izinnya.
Tetapi ketika tayangan itu ditindaklanjuti, tayangan tersebut tidak berhenti melainkan hanya berganti nama dengan isi konten yang sama.
" Itulah masalah kita, tayangan hanya berhenti sesaat. Setelah itu kembali tayang dengan nama yang berbeda, namun isi yang sama," ujar dia.
Menurut Maria, sebaiknya pengelola stasiun televisi menayangkan siaran yang lebih ramah anak. Siaran ramah anak ini dapat dimulai dari sudut pandang anak, menghargai ekspresi anak, dan menghargai partisipasi anak.
" Ke depan harus ada kanal khusus tentang ekspresi anak pada semua televisi," kata dia.
Senada dengan Maria, Direktur Remotivi Mohammad Heychael menyatakan stasiun televisi yang tidak memperhatikan porsi tayangan yang dibutuhkan anak. Menurut pimpinan LSM pemantau media itu, konten dalam media televisi kerap melihat anak hanya sebagai konsumen.
" Yang dilihat media hanya ranah ekonomi. Dia (televisi) tidak akan memperhatikan kalangan anak karena hanya melihat daya beli," kata dia.
Menurut Heychael, ada dua hal yang harus diperhatikan media yakni dari segi porsi dan sehatnya sebuah tayangan. Dengan begitu, tayangan televisi dapat memberikan edukasi yang baik untuk anak.
Berdasarkan data statistik pada kasus perlindungan anak yang disurvei oleh KPAI selama 2011-2014, kekerasan anak meningkat akibat tontonan televisi. Banyak tindakan kekerasan juga pornografi yang sedikit banyak ditiru oleh anak.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari