Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
KTT Ulama Dan Cendekiawan Muslim Se-Dunia Di Bogor, Jawa Barat (Foto:Anadolu Agency/Anton Raharjo)
Dream - Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Cendekiawan Muslim Dunia di Bogor, Jawa Barat, ditutup dengan penyampaian pesan bersama bertajuk 'Bogor Message'. Pesan ini berisi keresahan para ulama dan cendekiawan Muslim terkait kondisi global yang kacau dan penuh ketidakpastian.
Kondisi itu diperparah dengan kemiskinan, buta huruf, ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan. Para pemikir ini kemudian bersepakat Islam Wasathiyyah bisa menjadi solusi atas pelbagai persoalan yang sedang terjadi di dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.
“ Kami mempercayai Islam sebagai agama damai dan rahmat, keadilan, peradaban yang prinsip dan ajaran dasarnya mengajarkan cinta, rahmat, harmoni, persatuan, kesetaraan, perdamaian, dan kesopanan,” ujar Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsuddin, dikutip Dream dari Anadolu Agency, Kamis, 3 Mei 2018.
Din mengatakan paradigma Wasathiyah telah dipraktekkan sejak era Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Paradigma inilah yang akan diperjuangkan para ulama dan cendekiawan Muslim di seluruh penjuru dunia.
“ Kami menegaskan kembali peran dan tanggung jawab moral para cendekiawan Muslim untuk memastikan dan memelihara generasi masa depan untuk membangun peradaban Ummatan Wasatan,” kata Din.
Para ulama dan cendekiawan Muslim berkomitmen mengaktifkan kembali paradigma Wasathiyah sebagai inti ajaran Islam yang disokong tujuh nilai utama.
Pertama, tawassut, yakni posisi di jalur tengah dan lurus. Kedua, i'tidal, yakni berperilaku proporsional dan adil dengan tanggung jawab.
Nilai ketiga adalah tasamuh, mengakui dan menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan. Keempat, syura, bersandar pada konsultasi dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah untuk mencapai konsensus.
Kelima, islah, keterlibatan dalam tindakan yang reformatif dan konstruktif untuk kebaikan bersama. Keenam, qudwah, merintis inisiatif mulia dan memimpin untuk kesejahteraan manusia.
Nilai terakhir yaitu muwatonah, mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan.
Konsultasi ini juga mendorong komunitas maupun negara Muslim berinisiatif untuk mempromosikan paradigma Islam Wasathiyah dalam forum-forum dunia.
(Beq)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya