Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Siakapkeli.my)
Dream - Kehilangan seseorang yang kita cintai memang sangat menyakitkan. Namun begitu, kita harus sadar bahwa jodoh, rezeki dan kematian merupakan kuasa Allah SWT.
Meski pahit harus kehilangan seseorang, tapi tetap harus menerimanya dengan ikhlas.
Seperti kisah pria Malaysia bernama Kamal Effendi, yang ditinggal sang istri meninggal karena penyakit kanker. Meski sudah menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, Kamal tetap kehilangan istrinya.
Tetapi, dia berusaha tabah. Kamal mengungkapkan alasan yang menyentuh hati ketika ditanya mengenai pengganti istrinya.
Kamal bilang, semuanya dia serahkan pada ketentuan Allah. Kamal mengungkapkan alasannya yang tidak mau mendengar pertanyaan 'Kapan menikah lagi?'.
© Dream
" Lelah menjawab pertanyaan yang sama seolah-olah itu adalah kewajiban seorang duda untuk memikirkannya.
" Istri saya itu datang dalam hidup saya, tanpa saya mencari-carinya. Semuanya adalah pekerjaan Allah. Sejujurnya saya hanya berdoa dan melakukan kewajiban sebagai seorang Muslim.
" Jangan pernah memberi harapan kepada seorang wanita Muslim. Jauh dari pikiran saya untuk membayangkan bahwa saya akan menjadi suami.
" Allah mendatangkan dia, mungkin melalui doa istri dan doa saya sendiri, yang tidak saling mengenal dan mencintai pada awalnya.
" Dari hari pertama menikah, setelah mengucapkan akad nikah, Allah berkenan dengan pernikahan kami. Mungkin karena didasari ibadah, Allah berkenan agar kami bisa bersatu dan diberkati.
" Di hari pertama bergelar suami, kami mulai saling mencintai. Satu per satu Allah limpahkan nikmat kepada kami. Seolah-olah hari-hari dipenuhi dengan surga yang menanti. Surga tempat kami meluapkan kasih, menabur amal, dan memupuk berkat agar hidup diridhai.
" Namun apalah daya, yang indah tak selamanya ada. Yang paling abadi itu adalah agama itu sendiri. Terasa surga yang selama ini terbina hilang dihantam ganasnya ombak.
" Katanya, suami itu haruslah bersikap sebagaimana seorang lelaki. Simpan sedihnya, dan terus mencari pengganti. Tapi itu bukan janji saya pada diri saya sendiri. Saya tidak memerlukan pengganti.
" Jika memang jodoh, maka harus datang dengan sendirinya. Bukan jodoh sebagai pengganti atau bayang-bayang almarhumah istri saya.
" Saya khawatir dengan diri saya sendiri. Karena itu saya tidak akan mencari jodoh. Cukuplah seperti sebelum ini. Doa saja yang saya titipkan. Andai itu yang ditulis oleh Allah, jodoh saya pasti ada lagi.
" Sekian nukilan saya, jadi jangan ditanya 'Kapan menikah lagi?'."
(Sumber: siakapkeli.my)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya