Ini Daftar Wilayah di Indonesia yang Terpapar Radikalisme

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 17 Oktober 2019 09:01
Ini Daftar Wilayah di Indonesia yang Terpapar Radikalisme
Dari Sumatera, Baten hingga Papua, diklaim telah terpapar ideologi radikalisme.

Dream - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menyebut ada sejumlah wilayah yang menjadi penyemaian benih radikalisme dan terorisme. Sebagian besar daerah tersebut berada di Pulau Jawa. 

Dari pantauan Kementerian Dalam Negeri, daerah-daerah yang terpapar radikalisme tersebut meliputi Pulau Sumatera, sebagian banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Papua.

" Daerah-daerah merah radikalisme-terorisme muncul mulai dari pulau Sumatera, masuk provinsi Banten sebagian, masuk Jakarta, masuk beberapa Jabar, Jateng, Jatim, sampai NTT dan Papua. Ini paham radikalisme terorisme cukup merisaukan kita," ujar Tjahjo, dilaporkan Liputan6.com, Rabu, 16 Oktober 2019.

Dia meminta Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) di daerah untuk mencermati radikalisme-terorisme. Dia menyebut, radikalisme-terorisme merupakan musuh utama bangsa Indonesia saat ini.

" Musuh utama kita adalah radikalisme-terorisme ini harus kita lawan. Kesbangpol tolong cermati dan monitor hal ini," kata dia.

Tjahjo mengatakan, radikalisme-terorisme menjadi tantangan terberat Indonesia merdeka.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Putu Merta Surya)

1 dari 5 halaman

Polwan Surakarta Dibekuk, Diduga Terpapar Terorisme

Dream - Seorang polisi wanita (polwan) di Surakarta, Jawa Tengah dibekuk detasemen khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Polwan berinisial NOS itu diduga terlibat jaringan terorisme melalui media sosial.

" Sedang dilakukan pemeriksaan dan pendalaman oleh Densus 88. Sementara ini dia diduga terpapar kepada paham-paham radikalisme dari ISIS, tapi masih juga didalami," ucap Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Asep Adi Saputra seperti dilansir Liputan6.com, Jumat, 4 Oktober 2019.

Asep menyebut, NOS dibekuk di Yogyakarta pada Jumat, 27 September 2019. Polwan berpangkat Bripda itu diduga masuk ke jaringan teroris Wawan Wicaksono, yang diamankan polisi di Salatiga, Jawa Tengah, pada hari yang sama.

NOS sempat diamankan karena meninggalkan tugas saat di Surabaya, Jawa Timur. Dia menggunakan identitas palsu dalam penerbangannya dari Ternate ke Surabaya.

" Nanti akan direkomendasikan PTDH (Pemberhentian Tidak dengan Hormat)," kata Asep soal penangkapan terduga teroris.

Sumber: Liputan6.com/Nanda Perdana Putra

2 dari 5 halaman

Hati-Hati, Teroris Galang Dana Lewat Lembaga Kemanusiaan

Dream - Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo menyebut, Jemaah Islamiyah (JI) mengumpulkan uang operasional melalui donasi kemanusiaan. Mereka mengumpulkan dana itu melalui lembaga yang biasa aktif di media sosial.

" Dari Densus sudah memberikan data pada PPATK terkait masalah JI. Dari hasil pemeriksaan tersangka yang sudah diamankan, yang bersangkutan memiliki beberapa usaha," kata Dedi, dikutip dari , Kamis 8 Agustus 2019.

Menurut Dedi, usaha itu semisal perusahaan atau kebun. Uang hasil usaha itu akan masuk ke rekening kelompok JI. Tersangka yang telah ditangkap itu juga menggalang dana dengan dalih kepentingan masyarakat.

" Padahal dana tersebut bukan untuk kepentingan umat, tapi digunakan untuk kepentingan organisasi," kata dia.

Dedi mengatakan, Densus 88 Antiteror Polri telah menemukan sejumlah lembaga kemanusiaan bodong tersebut. Penyidik masih memetakan antara lembaga pemasok dana JI dengan milik kelompok teroris JAD.

" Tidak menutup kemungkinan untuk membeli beberapa bahan-bahan yang dirakit jadi bahan peledak," ucap dia.

Polri akan menggandeng PPATK dan perbankan untuk memblokir dana milik lembaga donasi bodong. Meski demikian, Polri mengedepankan azas praduga tak bersalah. Setelah cukup bukti terkait JI maupun JAD, Polri baru melakukan penindakan.

" Ketika memang cukup kuat bukti bahwa secara individu maupun kelompok mereka masuk dalam jaringan JI dan JAD, dan sudah sangat jelas mereka akan merencanakan aksi terorisme, maka bisa bekerjasama dengan PPATK dan perbankan untuk melakukan pemblokiran terhadap rekening-rekening tersebut dan dilakukan penyitaan agar tidak bisa dimanfaatkan oleh kelompok tersebut," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Facebook Tak Sadar Ikut Menyebar Unggahan Kelompok Teroris?

Dream - Facebook tanpa disadari menyebarkan konten aktivitas terorisme. Aktivitas aneh ini mendorong sejumlah pihak merasa tak nyaman.

National Whistleblowers Center di Washington (Amerika Serikat) diminta melakukan penelitian selama lima bulan terhadap 3.000 anggota yang menyukai atau terhubung dengan organisasi yang dianggap sebagai teroris oleh pemerintah AS.

Para peneliti menemukan kelompok Negara Islam dan Al-Qaeda " secara terbuka" aktif di jejaring media sosial.

Facebook secara otomatis `menyebarkan` video " perayaan" dan " kenang-kenangan" di akun-akun ekstremis. Whistleblower Center mengatakan telah mengajukan keluhan masyarakat kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS.

" Upaya Facebook untuk membasmi konten teror telah lemah dan tidak efektif," dilaporkan France24.

4 dari 5 halaman

Membuat Konten Teror

" Yang lebih memprihatinkan, Facebook sendiri telah menciptakan dan mempromosikan konten teror dengan teknologi otomatisnya."

Hasil survei yang dibagikan, menunjukkan bahwa Facebook tidak menindak dengan menghapus unggahan atau akun ekstremis.

" Kami tidak mengklaim menemukan segalanya dan kami tetap waspada dalam upaya kami melawan kelompok-kelompok teroris di seluruh dunia," kata perusahaan itu.

Facebook dan platform media sosial lainnya mendapat kecaman karena tidak menghentikan pesan kebencian dan kekerasan, sementara pada saat yang sama dikritik karena gagal menawarkan waktu yang sama untuk semua sudut pandang.

Facebook, pada Maret 2019, telah mengumumkan larangan dukungan terhadap white supremacy di jejaring sosial dan Instagram atas pujian. Larangan ini terjadi pasca serangan teror di Selandia Baru yang melukai umat Islam.

5 dari 5 halaman

Sri Lanka Blokir Facebook, Instagram, dan Youtube

Dream - Pemerintah Sri Lanka membatasi akses layanan media sosial pasca ledakan yang melanda negara itu, Minggu, 21 April 2019. Peristiwa teror yang terjadi saat kebaktian Paskah di tiga gereja itu menewaskan 207 orang dan melukai ratusan orang.

Dalam pernyataan singkat, sekretaris presiden Sri Lanka, Udaya Seneviratne, menyebut, dua media sosial yang diblokir yaitu Facebook dan Instagram. Pemblokiran itu disebut sebagai 'upaya membatasi berita palsu.`

Pemerintah Sri Lanka menyebut layanan media sosial itu akan dipulihkan kembali setelah investigasi atas peristiwa teror mencapai kesimpulan.

Kabar pemblokiran itu diungkapkan penulis, Nalaka Gunawardene. Melalui cuitannya, dia menyebut, aplikasi WhatsApp miliknya juga tak dapat bekerja. Tetapi, ada beberapa kawannya yang masih bisa menggunakan WhatsApp.

Selain itu, akses Youtube di negara itu juga diblokir.

Kepada TechCrunch, juru bicara Facebook, Ruchika Budhraja mengatakan, mendukung penegakan hukum dan menghapus konten yang melanggar standar.

" Kami mengetahui pernyataan pemerintah (Sri Lanka) tentang pemblokiran sementara platform media sosial. Orang-orang mengandalkan layanan kami untuk berkomunikasi dengan orang yang mereka cintai dan kami berkomitmen untuk mempertahankan layanan kami dan membantu pemulihan masyarakat di masa tragis," kata Ruchika.

Seperi Indonesia, saat ini Sri Lanka sedang berjuang untuk menghadapi informasi yang salah. Pemerintah mengeluhkan kabar palsu yang beredar melalui Facebook. (ism)

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna