Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Peluru Yang Ditembakkan Sniper Mengenai Kamera (Sumber: The Sun)
Dream - Momen menakutkan dialami seorang juru kamera Irak Ammar Alwaely. Dadanya nyaris tertembus peluru sniper ISIS saat meliput di Mosul, Iraq.
Dikutip Dream dari laman Siakapkeli, peluru sniper ISIS yang meluncur hanya mengenai kamera Go Pro pemberian jurnalis The Sun Owen Holdaway.
Jurnalis The Sun, Owen Holdaway menjadi saksi mata peristiwa mengerikan itu. Sebab, Owen berdiri beberapa inci dari Ammar.
Owen awalnya tak mengetahui kejadian itu.
"Saya refleks menjatuhkan diri dan tak bisa berpaling untuk melihat apakah Ammar baik-baik saja," kata Owen.
Saat diilihat lebih dekat...
© Dream
Setelah nampak aman, Owen yang berlindung di belakang kendaraan mulai mengamati sekitar. Dia menyadari tembakan itu mengenai kamera Go Pro lama yang dia berikan kepada Ammar beberapa hari lalu.
"Efeknya, kamera tersebut pecah, menyebabkan plastik tersembur di muka Ammar dan melukai bibirnya," ucap Owen.
Simak videonya di bawah ini.
© Dream
Dream - Seorang fotografer perang Amerika Serikat berhasil menangkap momen sebuah ledakan bom mortir yang secara tidak sengaja meledak di Afghanistan.
Sayangnya, kecelakaan itu membunuh dirinya dan juga empat tentara Afghanistan.
Hilda Clayton sedang memotret tentara Afghanistan yang berlatih menembakkan mortir di Qaraghahi bulan Juli 2013.
Namun latihan yang menggunakan peluru sungguhan itu berujung maut setelah mortir yang dipegang tiba-tiba meledak.
Hilda, yang saat itu berusia 22 tahun, sempat mengabadikan momen ledakan itu sebelum terbunuh bersama 4 tentara Afghanistan yang terlibat dalam latihan.
Kini, setelah empat tahun berselang, pihak keluarga Hilda mengizinkan foto detik-detik memilukan itu dipublikasikan.
© Dream
Menurut situs Stars and Stripes, kematian perempuan yang menjadi informan visual saat perang itu adalah, yang pertama dalam sebuah dokumentasi pertempuran Angkatan Darat Amerika Serikat.
Hilda adalah fotografer perang dari Divisi 1 Kavaleri Brigade Tempur Lapis Baja ke-4 yang diterjunkan di Gamberi, Provinsi Laghman, Afghanistan.
Foto-foto Hilda itu dipublikasikan di Majalah Militer Review edisi Mei-Juni.
Dalam sebuah artikel bersama foto itu, Militer Review menulis, "Aktivitas Clayton dalam membuat dokumentasi tidak hanya membantu membentuk dan memperkuat kemitraan (dengan Afghanistan), tapi juga menunjukkan risiko perempuan dalam konflik perang."
(Ism)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari