Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Salah Satu Karya Kartun Santri 'Agama Dan Bakti Kemanusiaan' (Dream.co.id/Maulana Kautsar)
Dream - Kartun menjadi media aspirasi yang cukup efektif dalam melihat fenomena sosial. Tidak jarang, kritik sosial dapat tersalurkan dengan unik melalui media gambar ini.
Media ini juga dimanfaatkan oleh para santri dalam menuangkan ide terkait fenomena sosial di dunia Islam Indonesia. 70 Karya kartun unik terpajang dalam pameran bertajuk 'Bernegara dan Beragama yang Santun Berakhlak'.
Salah satu kartun cukup menarik berjudul 'Untitled' karya Aji Prasetyo. Kartun ini menggambarkan tiga orang santri mengendarai motor tanpa helm sehingga ditilang polisi.
Dengan wajah tengil, salah seorang pengendara membela diri, 'Melanggar? Ayat yang mana, hadist yang mana!?' tanya pengendara.
Anggota Dewan Juri Abdullah Ibnu Thalhah menyebut kartun ini seperti menyindir kelompok ekstrim yang kerap menggunakan dalih agama sebagai pembelaan ketika melanggar peraturan. Mereka kerap 'ngeyel' ketika dinyatakan melakukan pelanggaran.
" Lihat, wajah tengil ketiga orang ini. Sudah tahu melanggar hukum, masih saja menghubungkan dengan agamanya," jelas Ibnu kepada Dream, di Galeri Nasional, Selasa, 24 November 2015 malam.
Pameran ini digelar sebagai hasil perlombaan Kartun Santri yang diadakan Kementerian Agama (Kemenag). Kartun berjudul 'Agama dan Bakti Kemanusiaan' karya Muhammad Bahrudin didaulat menjadi juara pertama perlombaan ini.
Bahrudin menyajikan dengan apik ide tentang kemanusiaan melalui sketsa tiga anak berlatar belakang agama berbeda. Ketiga anak itu membantu seorang nenek menyeberang menuju Jalan Damai.
Ibnu menilai karya ini menyajikan optimisme berkembangnya toleransi di negeri ini. Simbol-simbol keberagaman yang tercantum dalam karya ini dapat menjadi inspirasi sikap menjaga nilai-nilai persatuan.
Munculnya kartun sebagai media berkesenian bagi para santri ini menurut Kurator Pameran Kartun Santri Kuss Indarto membawa dampak positif. Baginya, dengan seni inilah sesungguhnya Islam mendapatkan pemaknaan yang lebih mendalam.
" Dengan memadukan kemampuan beragama dan budaya maka akan membuat kehidupan menjadi tidak gersang. Apalagi dalam karya yang ditampilkan ada bungkus eufimistik dengan pendekatan humor," terang dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya