JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi
Dream - Sejumlah perempuan di Arab Saudi terpaksa bekerja sebagai petugas pemandi jenazah di rumah sakit. Sebagian memilih profesi ini tanpa bayaran sedikitpun. Sebagian lagi, terpaksa memilih pekerjaan karena dorongan ekonomi.
Salwa Al-Qahtani, direktur bagian perempuan di kota Asir, mengatakan sebagian besar perempuan yang memilih profesi ini adalah lulusan sekolah tingkat menengah. Namun ada juga perempuan dengan titel sarjana yang memilih profesi ini.
Arab Saudi memang memiliki sejumlah pusat pemandian jenazah yang memakai petugas khusus. Para perempuan pemandi jenazah ini harus mengikuti prosedur tertentu dan memiliki izin yang dikeluarkan oleh pihak berwenang atau pengadilan.
Perempuan bisa menjadi pemandi jenazah dengan mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Dakwah Kementerian Agama. Mereka akan memperoleh sertifikat sebagai tanda telah menyelesaikan pelatihan.
" Saya memiliki gelar sarjana dalam studi Islam, tetapi kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan di bidang saya. Jadi saya terpaksa mencari pekerjaan di pusat pemandian jenazah seperti banyak sarjana lainnya, terutama jika Anda berasal dari keluarga miskin," kata Maodi Abdul Aziz, 29, yang menjadi pengawas di sebuah pusat pemandian jenazah seperti dikutip dari laman Arabnews, Rabu, 13 Mei 2015.
Dia mengatakan gaji bulanan yang ia terima adalah 2,000 riyal termasuk tunjangan transportasi. Jumlah ini pastinya minim dibandingkan tanggung jawabnya besar yang ditanggungnya.
Maodi mengutuk sikap masyarakat yang menganggap orang-orang yang bekerja sebagai pemandi jenazah sebagai makhluk rendah.
Fatima Abdul Salam, 35, pemegang gelar sarjana bahasa Arab dari Universitas King Abdul Aziz, tidak senang dengan pekerjaannya yang sekarang. Dia mengatakan salah satu masalah utama yang dihadapinya saat bekerja sebagai pemandi jenazah adalah sikap negatif tetangganya dan anggota masyarakat lainnya.
Fatima mengatakan sudah sembilan tahun mencari pekerjaan namun tak kunjung berhasil. Dia bahkan sudah minta bantuan dari Departemen Layanan Sipil tapi tetap saja gagal. Seperti lulusan sarjana lainnya, Fatimah pun beralih menjadi pemandi jenazah.
Petugas pemandi jenazah lainnya, Umm Taif, mengatakan memandikan jenazah membutuhkan kesabaran dan keberanian. Terutama ketika memandikan jenazah korban kecelakaan yang sebagian besar anggota tubuhnya tidak utuh.
" Satu hari, seorang perempuan meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Beberapa bagian tubuhnya hilang saat dibawa ke kami. Saya dengan sabar memandikan dan mengkafaninya," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
