JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Rafi Yoeli Bersama Mobil Terbang Yang Dikembangkannya (Sumber: Reuters)
Dream - Setelah 15 tahun dikembangkan, perusahaan Urban Aeronautics optimis dapat meluncurkan mobil melayang kreasi mereka. Mobil terbang bernama The Cormorant tersebut dapat mengangkut bobot hingga 500 kilogram dan mampu terbang dengan kecepatan 185 kilometer perjam.
Menurut pendiri dan CEO Urban Aeronautics, Rafi Yoeli, mobil yang menggunakan rotor internal tersebut dapat mengevakuasi korban konflik bersenjata. Selain itu, mobil terbang tersebut dapat digunakan militer sebagai kendaraan untuk menghindari bom.
" Bayangkan saja, mobil ini dapat melewati bom yang dipasang di kota dan kandungan kimia berbahaya lain dengan dikontrol dari jarak jauh," kata Yeoli, dilansir dari Reuters via Arab News, Rabu, 4 Januari 2017.
Pemilik perusahaan yang awalnya mengembangkan pesawat tanpa awak, drone, itu yakin mobil terbang itu dapat segera terselesaikan. Meski begitu, dia menjelaskan ada beberapa perbaikan yang harus dilakukan sebelum akhirnya diluncurkan di pasaran.
The Cormorant berbobot 1,5 ton. Hingga riset terakhir, Yoeli telah menghabiskan dana sekitar 14 juta dolar, setara Rp188 miliar.
Selain The Cormorant, Yoeli juga mendesain kendaraan berukuran mobil keluarga yang disebut Air Mule.
Meski demikian, dua kreasi Yoeli saat ini belum memenuhi standar Federal Aviation Administration (FAA). Tes pada November 2016 menyebut ada masalah mengenai data yang dikirim oleh perangkat sensor mobil terbang tersebut.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun