Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Najwa Shihab (Foto: Instagram)
Dream - Najwa Shihab dilaporkan ke polisi setelah aksinya mewawancarai 'bangku kosong' yang seolah-olah diduduki Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto dalam program Mata Najwa.
Laporan tersebut disampaikan Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu, Silvia Devi Soembarto, yang menilai aksi Najwa Shihab sebagai tindakan cyber bullying.
Menjawab tuduhan dan pelaporkan yang dibuat Silvia, Najwa Shihab memberkan respons melalui akun instagram pribadinya @najwashihab, Selasa 6 Oktober 2020.
Dalam penjelasannya, Najwa mengaku belum mengetahui dasar pelaporan dan pasal yang dituduhkan kepada dirinya.
“ Saya baru mengetahui soal pelaporan ini dari teman-teman media. Saya belum tahu persis apa dasar pelaporan termasuk pasal yang dituduhkan,” tulis Najwa.
Dari informasi yang didengarnya, lanjut Najwa, polisi telah menolak laporan Silvia. Polisi menyarankan agar Silvia untuk melaporkan kasus itu ke Dewan Pers karena Najwa Shihab berprofesi sebagai jurnalis saat membuat video tersebut.
“ Saya dengar pihak Polda Metro Jaya menolak laporan tersebut dan meminta pelapor membawa persoalan tersebut ke Dewan Pers," ujarnya.
Jika dilaporkan ke Dewan Pers, Najwa memastikan akan datang memberikan keterangan jika diperlukan. " Tentu saya siap memberikan keterangan di institusi resmi yang mempunyai kewenangan untuk itu,” jelas Najwa.
Menurut Najwa, tayangan kursi kosong diniatkan mengundang pejabat publik guna menjelaskan kebijakan-kebijakan terkait dengan penanganan pandemi Covid-19. Penjelasan itu tidak harus di Mata Najwa, bisa di mana pun.
Sejak pendemi Covid-19 meningkat, sambungnya, Menteri Terawan jarang mendapat ekspose dari semua media. Karena itu, banyak pihak yang mempertanyakan kehadiran sosok mantan Kepala RSPAD Gatot Subroto itu dalam penanganan Covid-19.
Menurutnya, dari waktu ke waktu semakin banyak pihak yang mempertanyakan kehadiran dan proporsi Menteri Kesehatan dalam soal penanganan pandemi.
“ Faktor-faktor itulah yang mendorong saya membuat tayangan yang muncul di kanal Youtube dan media sosial Narasi. Media massa perlu menyediakan ruang untuk mendiskusikan dan mengawasi kebijakan-kebijakan publik. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan juga berasal dari publik, baik para ahli/lembaga yang sejak awal concern dengan penanganan pandemi maupun warga biasa,” terang Najwa.
Tayangan dalam Mata Najwa tersebut menurut najwa sebagai bentuk usaha memerankan fungsi media sesuai UU Pers yaitu mengembangkan pendapat umum dan melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.
Najwa menambahkan, bahwa treatment kursi kosong ini belum pernah dilakukan di Indonesia, tetapi lazim di negara yang punya sejarah kemerdekaan pers cukup Panjang. Di Amerika sudah dilakukan bahkan sejak tahun 2012, di antaranya oleh Piers Morgan di CNN dan Lawrence O’Donnell di MSNBC’s dalam program Last Word.
Pada tahun 2019 lalu di Inggris, Andrew Neil, wartawan BBC, juga menghadirkan kursi kosong yang sedianya diisi Boris Johnson, calon Perdana Menteri Inggris, yang kerap menolak undangan BBC. Hal serupa juga dilakukan Kay Burley di Sky News Ketika Ketua Partai Konservatif James Cleverly tidak hadir dalam acara yang dipandunya.
View this post on Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya