Seram! Ini Penampakan Kebakaran Hutan Indonesia dari Luar Angkasa

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 19 September 2019 13:01
Seram! Ini Penampakan Kebakaran Hutan Indonesia dari Luar Angkasa
Lihatlah begitu buruknya kondisi di Pulau Kalimantan.

Dream - Kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan dan Sumatera pada September 2019 menyebabkan kabut asap di sejumlah wilayah.

Kabut asap ini membuat banyak sekolah ditutup, jadwal penerbangan pesawat tertunda, dan ancaman kesehatan.

Satelit milik Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA), Aqua menunjukkan kondisi asap tebal di atas pulau Kalimantan. Dengan teknologi bernama The Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS), NASA memotret kondisi Borneo pada 15 September 2019.

Dari foto tersebut, tampak asap melayang di atas Pulau Borneo dan negara-negara di pulau itu.

Tampak pula, api yang membakar sekitar lahan gambut di Kalimantan. Satelit Aqua juga telah mendeteksi bukti kebakaran di wilayah ini sepanjang Agustus 2019. Tetapi jumlah dan intensitas kebakaran meningkat pada pekan pertama September.

 Kondisi karbon di atas Pulau Kalimantan

Kondisi kabut di Pulau Kalimantan (Foto: NASA)

1 dari 2 halaman

Berhubungan dengan Sawit

 Kabut asap di atas Pulau Kalimantan (Foto: NASA)

Kabut asap di atas Pulau Kalimantan (Foto: NASA)

Kebakaran hutan menjadi peristiwa umum di hutan Kalimantan pada September dan Oktober. 

NASA menyebut, kebakaran hutan berhubungan dengan penanaman kelapa sawit dan pulp akasia. 

Operasional Land Imager (OLI) di Landsat 8 memperoleh gambar yang menunjukkan, kebakaran di beberapa daerah kelapa sawit di Kalimantan selatan.

Selain sebaran api dan asap, NASA juga menemukan data karbon organik pada 17 September 2019. Teknologi GEOS forward processing (GEOS-FP), mensimulasikan pemodelan karbon organik dari proses kebakaran hutan.

2 dari 2 halaman

Aerosol

 Kondisi karbon di atas Pulau Kalimantan

Kondisi karbon di atas Pulau Kalimantan (Foto: NASA)

GEOS-FP juga mencerna data meteorologi seperti suhu udara, kelembaban, dan angin untuk memproyeksikan perilaku bulu-bulu. Dalam hal ini, asap tetap relatif dekat dengan sumber api karena angin pada umumnya lembut.

Model ini mencerna data aerosol baru pada interval tiga jam, data meteorologi baru pada interval enam jam, dan data kebakaran baru setiap hari.

Peta gambut yang tersedia melalui Pusat Atlas Penelitian Kehutanan Internasional Kalimantan menunjukkan bahwa banyak kebakaran terjadi di dalam atau di dekat daerah-daerah dengan lahan gambut.

Kebakaran gambut cenderung sulit dipadamkan, seringkali membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan sampai musim hujan tiba.

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie