Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Suar Surya (newsweek)
Dream - Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mencatat kemunculan dua lidah api atau suar surya terjadi pada Rabu, 6 September 2017 lalu. Suar ini diklaim yang terkuat selama 12 tahun terakhir.
Dikabarkan suar inilah yang menganggu komunikasi radio, GPS, dan listrik di permukaan Bumi. Fenomena alam ini ditangkap oleh Solar Dynamics Observatory NASA.
" Radiasi yang berbahaya dari suar tidak cukup kuat berpengaruh pada manusia di lapangan, tetapi sangat kuat dan bisa mengganggu di lapisan atmosfer tempat gelombang komunikasi dan GPS," demikian penjelasan NASA.
Sehari setelah fenomena itu, NASA mengeluarkan peringatan tentang dampak yang bisa ditimbulkan suar tersebut pada Kamis, 7 September 2017. Peringatan yang menyatakan akan adanya peningkatan suhu akibat radiasi suar tersebut masih berlaku hingga beberapa hari ke depan.
Sementara itu Space Weather Prediction Centre (SWPC), semacam BMKG di AS, mengatakan suar api di Matahari adalah semburan radiasi yang kuat dan mampu mengganggu komunikasi radio di bumi dalam cakupan yang luas.
SWPC mengatakan radio berfrekuensi tinggi akan mengalami gangguan dan tak bisa siaran, sedikitnya dalam waktu satu jam. Kemampuan perangkat komunikasi frekuensi rendah yang biasanya dipakai dalam navigasi, juga mengalami degradasi selama satu jam.
Meski cukup berbahaya, dua suar yang muncul dalam pekan ini diprediksi tidak akan timbul lagi dalam beberapa tahun ke depan. Ini lantaran siklus matahari yang dimulai sejak 2008 lalu menunjukkan penurunan aktivitas.
Pada fase ini, kemunculan suar akan semakin langka. Waktu terdekat kemunculan kembali suar tersebut diprediksi akan terjadi pada 2019 dan 2020.
Tetapi, beberapa siklus matahari terakhir membuat ilmuwan keheranan. Sebab, bintik matahari yang kerap muncul dalam periode 2 tahunan sudah tidak ada lagi dalam kurun 100 tahun terakhir.
Kajian data pengamatan matahari dalam 30 tahun terakhir menunjukkan distribusi medan magnet semakin menipis. Selain itu, para ilmuwan mendapat temuan laju rotasi matahari telah berubah.
(Sah/Sumber: News Week)
Baca Juga: Ilmuwan Temukan Gumpalan Purba, Diklaim `Otak Alien` 'Hujan Eksklusif' di Tebet Tak Mungkin Terjadi, Ini Alasannya Bahas Satelit Rusak, Kepala Lapan Sindir Penganut Bumi Datar Kejanggalan di Balik Hujan Aneh Guyur 1 Rumah di Tebet Mengejutkan, Video Detik-detik Ular Raksasa Melahirkan Anak
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya