Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Nasi Lemak Terakhir Sang Ibu (Siakapkeli.my)
Dream - Kesedihan tentu tak bisa dihindarkan ketika ada salah satu anggota keluarga meninggal. Apalagi, yang meninggal adalah ibu atau ayah yang sangat disayangi.
Segala peristiwa yang terjadi selama mereka masih di dunia menjadi kenangan yang takkan pernah terlupakan. Tak pelak, kenangan itu menghadirkan kerinduan teramat sangat.
Seperti dikisahkan oleh Abdul Rahman ketika sang ibu tercinta meninggal. Dia bersama saudara kandungnya merasakan pedih berlapis lewat nasi lemak yang dimasak sang ibu sebelum meninggal.
Dikutip dari Siakap Keli, Rahman mengisahkan detik-detik sebelum ibunda, Sariah binti Fatah, meninggal dunia. Dia mengawalinya dengan cerita sang ibu memasak di pagi hari.
" Ibu sudah masak nasi lemak dengan sambal telur. Saat pukul 11.00 dapat telepon ibu sudah tidak ada," tulis Rahman.
Saat itu, Rahman sedang bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah mendapat kabar ibunya meninggal, dia langsung pulang ke rumah orangtuanya di Batu Pahat.
" Sampai Batu Pahat sekitar pukul 13.00 lebih lah. Waktu itu jenazah ada di rumah sakit Bukit Pahang untuk dimandikan dan dikafani," tulis dia.
Jenazah sang ibu kemudian disholatkan di mushola kampung, lalu dimakamkan. Prosesi pemakaman selesai sekitar sebelum Maghrib waktu setempat.
Rahman bersama keluarga lalu pulang ke rumah. Sesampai di rumah, dia merasa lapar. Dia lalu membuka tudung nasi yang ada di atas meja.
Kesedihan yang makin menjadi dirasakan Rahman. Sebab, di atas meja terlihat nasi lemak lengkap dengan lauk ikan dan sambal telur, masakan sang ibu sebelum meninggal.
Dia ambil makanan itu. Ditempatkannya di atas empat piring. Lalu, Rahman membagikannya kepada saudara-saudaranya.
" Suapan pertama, ya Allah, makanan itu terasa berbeda. Saya makan sambil menangis," tulis Rahman.
Meski dalam kesedihan yang sangat, Rahman memutuskan untuk menghabiskan nasi lemak tersebut. Sebab, makanan itu adalah masakan terakhir sang ibunda.
" Sebab itu masakan terakhir itu, dan saya tidak akan dapat menikmatinya lagi," tulis Rahman.
Ibunda Rahman telah setahun dimakamkan. Dia pun mengaku rindu akan kehadiran sang ibu.
" Ibu, jujur saya rindu, ibu halalkan makan dan minum saya, ibu maafkan dosa saya kepadamu, terima kasih sudah membesarkan saya, terima kasih sudah melahirkan saya," tulis dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya