Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Buaya 500 Kg Ditangkap Dengan Tali (Liputan6.com/Arfandi Ibrahim)
Dream - Aksi nekat dilakukan Wani, warga Desa Mootilango, Kecamatan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwatu, Gorontalo. Pria 38 tahun ini menangkap seekor buaya dengan panjang badan lima meter dan berat 500 kilogram.
Bukan dengan alat canggih, Weni berhasil menakhlukkan reptil raksasa itu hanya dengan seutas tali. Weni menangkap buaya itu ketika sedang mencari ikan di sungai pada malam hari.
Cahaya senter yang dia pakai untuk menerangi sungai secara tidak sengaja menyorot mata buaya. Weni tidak mengira itu adalah mata buaya. Dia lalu mendekat dan baru menyadari itu adalah buaya.
Weni segera menuju gubuknya dan mencari tali. Dia juga dibantu anaknya, Fikran, 15 tahun, untuk menangkap buaya tersebut.
" Saat saya panggil anak saya, dia tidak menolak, kemudian kami pergi sama-sama menangkap buaya tersebut," kata Weni, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 2 April 2019.
Setelah mengambil tali dan alat lainnya yang masih tradisional, Weni dan anaknya kembali ke tempat buaya itu ditemukan. Dalam waktu tidak terlalu lama, keduanya berhasil menangkap buaya tersebut.
Buaya itu diikat dengan seutas tali. Keduanya kemudian membawa buaya itu ke pemukiman dan menjadi tontonan warga sebelum akhirnya diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Gorontalo melalui kepolisian.
Kepala BKSDA Gorontalo, Syamsudin Hadju, justru tidak sepakat dengan langkah Weni menangkap buaya tersebut. Menurut dia, seharusnya buaya itu dibiarkan hidup di alam bebas.
" Saya benar marah, yang menangkap buaya ini saya sudah undang dan sudah diberikan pengertian untuk tidak menangkap lagi buaya yang ada di alam liar, kecuali buaya tersebut masuk ke kampung dan menyerang warga, nah barulah bertindak," kata Syamsudin.
Dia juga menilai penangkapan buaya tersebut malah merepotkan BKSDA. Sebab, pihaknya bingung menentukan lokasi pelepasan buaya tersebut.
Syamsudin khawatir buaya tersebut membahayakan warga jika dilepas ke sungai di Gorontalo.
" Kami hari ini dilema, akan dilepaskan di mana buaya ini sedangkan masih ada satu buaya belum kita rilis ini sudah ketambahan lagi, di sisi lain kami memikirkan keselamatan orang banyak karena ini jenis buaya paling ganas," kata dia
Selain itu, Syamsudin mengatakan pihaknya kewalahan merawat buaya. Ini karena porsi makan buaya tersebut tidaklah sedikit.
" Kalau hanya 10 ekor ayam tidak cukup untuk dia setiap kali makan," ucap Syamsudin.
Sementara, BKSDA tidak memiliki anggaran untuk pemeliharaan hewan liar. Biasanya, BKSDA sebatas menerima titipan hewan yang sifatnya sementara.
" Lagi-lagi kami terkendala tempat untuk merilis," kata dia.
Tak hanya itu, melepasliarkan hewan buas tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurut Syamsudin, meski sudah didapat lokasi yang tepat, pelepasliaran harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat.
Sumber: Liputan6.com/Arfandi Ibrahim
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya