Baru FDR Black Box Sriwijaya Air yang Ditemukan, CVR Masih Dicari

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 12 Januari 2021 18:16
Baru FDR Black Box Sriwijaya Air yang Ditemukan, CVR Masih Dicari
Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan black box masih perlu ditemukan.

Dream - Tim penyelam TNI Angkatan Laut berhasil menemuan bagian black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Temuan itu pertama kali dilaporkan pada pukul 14.00 WIB.

" Hari ini, tepat pukul 14.00 WIB, KSAL menyampaikan informasi kepada saya bahwa sesuai perkiraan yang telah ditentukan di wilayah yang telah ditandai telah ditemukan bagian dari FDR," kata Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, di Jakarta, Selasa 12 Januari 2021.

Namun, dalam laporan itu KSAL menyebut bahwa benda yang ditemukan adalah pecahan black box yang fungsinya memancarkan sinyal Flight Data Recorder. Sehingga pencarian terus dilanjutkan.

Pada pukul 16.40 WIB, tambah Hadi, KSAL melaporkan kembali bahwa FDR sudah ditemukan. Laporan itu juga menyebut bahwa underwater locator beacon ditemukan dua.

" Artinya cockpit voice recorder masih perlu dicari dengan tanpa adanya bantuan, yaitu underwater locator beacon tersebut," tutur Hadi.

" Namun kami meyakini semua bahwa beacon yang ada di cockpit voice recorder ditemukan di sekitar itu, maka dengan keyakinan yang tinggi CVR juga segera ditemukan," kata dia.

Dengn bantuan kapal Baruna, Hadi berharap pencarian CVR yang underwater locator beacon-nya ditemukan hari ini, bisa ditemukan. " Mudah-mudahan apa yang jadi target kita bisa terjadi," tutur Hadi.

1 dari 3 halaman

Black Box Sriwijaya Air SJ-182 Ditemukan

Dream - Black box pesawat Sriwijaya Air SJ-182 telah ditemukan. Alat penting tersebut terlepas dari badan pesawat yang hancur dan tergeletak di perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu.

Tim penyelam TNI AL menemukan alat tersebut sekitar pukul 16.20 WIB. Alat tersebut kemudian diangkut ke pelabuhan JICT di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sebelumnya, Kepala Badan SAR Nasional, Marsdya Bagus Puruhito, menyatakan tim gabungan telah menemukan lokasi black box SJ-182. Tim gabungan terus menyisir perairan yang diduga menjadi tempat jatuhnya alat perekam data penerbangan tersebut.

Indikasi tersebut didapat dari ditangkapnya sinyal darurat yang diduga dipancarkan alat tersebut. Tim pun melakukan pemetaan kawasan sebelum terjun untuk menemukan alat itu.

" Kita meyakini itu blackbox karena ada sinyal transmitted emergency yang mana hanya ada dari alat tersebut. Dari Basarnas sudah bawa peralatan seperti direction finder yang akan dibawa ke KRI Rigel utk segera menindaklanjuti pencarian blackbox tersebut," ujar Bagus, dikutip dari Merdeka.com.

Black box merupakan alat yang penting untuk mengetahui penyebab kecelakaan pesawat. Alat ini dibuat dalam dua unit yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

FDR berfungsi merekam data statistik penerbangan. Sedangkan CVR merekam data percakapan pilot selama penerbangan berlangsung.

2 dari 3 halaman

KNKT: Sriwijaya Air SJ-182 Tak Meledak Sebelum Hantam Air

Dream - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tengah melakukan investigasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di Kepulauan Seribu. Dari pemeriksaan sementara, KNKT mendapatkan sejumlah data mengenai kondisi pesawat usai terjadi kecelakaan.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengatakan, data dihasilkan dari pemeriksaan terhadap serpihan pesawat yang dikumpulka KRI Rigel. Besaran wreckage didapati dengan luasan selebar 100 meter dan panjang sekitar 300-400 meter.

Kesimpulan sementara, Soerjanto menyebut pesawat diduga tidak meledak di udara. Badan pesawat hancur diduga setelah menabrak permukaan air.

" Luas sebaran ini konsisten dengan dugaan bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum menghantam air," ujar Soejanto, dikutip dari Merdeka.com.

 

3 dari 3 halaman

Diduga Mesin Masih Menyala

KNKT juga menganalisis bagian pesawat yang diserahkan Basarnas yaitu turbin dan fan blade. Dua bagian pesawat tersebut mengalami kerusakan parah.

" Kerusakan pada fan blade menunjukkan kondisi mesin masih bekerja saat mengalami benturan. Hal ini sejalan dengan dugaan pesawat masih berfungsi pada ketinggian 250 kaki," kata dia.

Selain itu, KNKT juga menggunakan data dari AirNav dalam melakukan analisis. Data tersebut berupa percakapan pilot dengan menara pengatur lalu lintas udara sebelum kecelakaan terjadi.

Dari data tersebut, diketahui pesawat naik hingga ketinggian 10.900 kaki. Kemudian terus turun hingga 250 kaki.

" Mengindikasikan pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim data. Kami menduga mesin masih hidup sebelum membentur air," kata Soejanto.

Sumber: Merdeka.com/Rifa Yusya Adilah.

Beri Komentar