Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Perempuan Pasukan Komando Palestina (USA Today)
Dream – Para perempuan berhijab bergelayut dengan seutas tali. Merayap turun dari lantai enam sebuah gedung. Senapan di tangan mereka tembakkan sesekali. Berdesing-desing menyasar target di dalam gedung buatan.
Begitu menginjak tanah, kaki mereka gesit berlari. Menyelamatkan sandera penting ke sebuah mobil. Sekejap kemudian, mereka melesat. Meninggalkan palagan pertempuran berdebu.
Itulah 22 perempuan Palestina yang tengah berlatih keahlian komando. Para perempuan ini akan bergabung dalam pasukan khusus Pengawal Presiden. Sebuah pasukan dengan jumlah 2.600 personel laki-laki. Merekalah kelompok perempuan pertama yang bergabung di tim elite ini.
Para perempuan yang tergabung dalam pasukan pengawal presiden ini direkrut tahun lalu. Mereka kemudian mendapat pendidikan di Independence University, sebuah akademi keamanan di Jericho, Palestina.
Salah satu anggota pasukan pengawal itu, Kurum Saad, mengatakan tak ingin hanya berada di kantor mengurus masalah administrasi saja. Saad ingin mencoba petualangan sebagai pasukan elite di negerinya.
“ Saya tidak ingin duduk di kantor. Sejak saya kecil, saya gemar menembak dan berolahraga,” tutur perempuan berusia 23 tahun itu seperti dikutip Dream dari USA Today, Senin 5 Mei 2014.

Para perempuan itu, kecuali dua orang, mengenakan hijab hitam yang menjadi tren di kalangan muslimah Palestina. Selain itu, mereka mengenakan sepatu boot hitam, seragam penyamaran, masker penutup wajah warna hitam, serta helm di atas hijab yang mereka kenakan.
Meski berhijab, gerakan perempuan-perempuan itu tak menjadi lambat. Mereka dilatih terjun ke kolam untuk berenang dengan seragam lengkap yang mereka kenakan itu.
Bagi Saad, berlatih komando bukan hal mudah. Mulanya melekat rasa takut. Namun, sedikit demi sedikit Saad dan perempuan-perempuan itu mampu melepas rasa takut itu. “ Ayah dan saudari saya bangga saya bergabung dengan pasukan ini,” kata Saad.
Tak mudah bagi perempuan Palestina bergabung di kesatuan militer. Sebab terdapat berbagai batasan jender. Namun batasan-batasan itu sekarang seolah runtuh. Sejumlah perempuan telah menjadi bupati, hakim, anggota kabinet, hingga menjalankan bisnis sendiri.
Salah satu faktor yang membuka pintu bagi para perempuan di Palestina adalah naiknya jumlah pengangguran. Kondisi itu mendorong para perempuan dan keluarga jadi lebih terbuka. Para perempuan dipersilakan melakukan pekerjaan non-tradisional.
Menurut Brigjen Rashideh Mughrabi, jenderal yang mengurusi masalah jender di dalam angkatan bersenjata nasional Palestina, perempuan Palestina baru mengisi tiga persen dari 30 ribu anggota polisi dan badan keamanan lainnya di Tepi Barat. Namun, saat ini rekrutmen perempuan oleh angkatan bersenjata terus digalakkan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya