Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gunung Anak Krakatau Kala Mengalami Erupsi Akhir Pekan Lalu (Merdeka.com)
Dream - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau dengan enam seismograf, atau alat pengukur kegempaan. Enam seismograf itu terpasang di wilayah Banten dan Lampung.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan, seismograf itu untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berpotensi menimbulkan longsor.
" Karena itu dengan seismograf yang dimiliki BMKG, dengan mengepung Gunung Anak Krakatau, diharapkan bisa mencatat kalau satu sensor mencatat itu setelah dia akan mengeluarkan alarm," kata Rahmat, dikutip dari Liputan6.com, Rabu, 26 Desember 2018.
Dengan minimal tiga seismograf yang mendeteksi getaran yang sama, BMKG akan menganalisa dan mencari sumber getaran. Walhasil, BMKG dapat menentukan titik mana yang berpotensi longsor akibat getaran tersebut.
Rahmat menyebut BMKG akan memberi peringatan dini tsunami bila seismograf mencatat getaran dari 3,4 hingga 3,5 magnitudo. Angka ini ditetapkan karena diperkirakan tsunami pada Sabtu, 22 Desember 2018 itu diperkirakan berkekuatan 3,4 magnitudo.
" Kami berharap tidak menimbulkan kepanikan baru. Lebih baik kita berikan warning, syukur-syukur tidak terjadi tsunami. Kalau satu jam tidak ada tanda-tanda tsunami kami sampaikan bahwa warning tsunami dinyatakan berakhir," ucap dia.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Ridwan Djamaluddin, mengatakan getaran 3,4 magnitudo bukan satu-satunya faktor pemicu tsunami di Selat Sunda.
" Kita hipotesa terbaik yang ada sekarang adalah pemicu tsunami adanya longsoran lereng Gunung Anak Krakatau," ujar Ridwan.
" Jadi kalau pun dia 3,4 magnitudo, kalau material longsor sudah tidak ada, ya tidak ada (tsunami)" kata dia.
(Sah, Sumber: Liputan6.com/Nafiysul Qodar)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya