Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Selamat Hari Ibu
Dream - Presiden ke-1 Indonesia, Soekarno menempatkan perjuangan perempuan sebagai salah satu fondasi keselamatan nasional. Posisi inilah yang membedakan Hari Ibu di Indonesia dengan Mother Day, Hari Ibu di dunia Barat.
Tulisan Soekarno mengenai dukungan itu dapat ditemukan di majalah Suluh Indonesia Muda pada 1928, yang telah dirangkum dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi.
Simak petikan tulisan Soekarno dalam judul Kongres Kaum Ibu, berikut,
" ..dimana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira, bahwa perdjoangannja mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu...`keselamatan nasional` jang demikian itu ialah keselamatan nasional jang pintjang."
Dukungan Soekarno itu disambut para perempuan. Tapi, dalam bukunya Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang karya Susan Blackburn, masih ada cibiran yang muncul.
" Orang perempoean sadja kok mengadakan Congres, jang hendak diremboeg disitoe itoe apa?" tulis Monique Soesman, tentang ucapan salah seorang pencetus kongres perempuan.
Tapi, ketika Kongres Perempuan Pertama di 22 Desember 1928 digelar di Mataram (kini Yogyakarta), banyak hal yang dibicarakan.
600 perempuan dari berbagai latar belakang berdiskusi mengenai tema-tema yang patut diperjuangkan para perempuan di masa itu.
Sebanyak 15 pembicara, yang hampir semuanya perempuan, mengisi kongres. Sejumlah perempuan yang tercatat menjadi pembicara antara lain berasal dari Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Aisjijah, Poetri Boerdi Sedjati, Wanito Sedjati, Darmo Laksmi, Roekoen Wanodijo, Jong Java, Wanita Moelyo, dan Wanita Taman Siswa.
Meski masih terkesan Jawa sentris, isu yang dibicarakan menyinggung aspek yang relevan hingga kini. Mengenai isu Jawa sentris tersebut, Susan memiliki penjelasan.
" Untuk mengimbangi unsur-unsur Jawa yang sangat mencolok, setelah dua tablo pertama itu, suara sejumlah gadis menyanyi dalam bahasa Indonesia dapat didengar, dan setelah layar terbuka kembali terlihat berdiri gadis-gadis sebanyak jumlah pulau di Indonesia, mengenakan pakaian tradisional dari pulau-pulau yang diwakilinya. ... Dengan spontan para hadirin memekikan `Hidup Persatuan Perempuan Indonesia` beberapa kali," tulis Susan mengutip catatan Congres Perempoean 1929.
Salah satu perundingan menjadi hangat lantaran perempuan dari organisasi Natdatoel Fataat, melontarkan isu-isu mengenai perempuan pribumi.
Kebanyakan dari pembicara menekankan pentingnya pendidikan modern bagi perempuan muda. Tapi, ada beda pendapat mengenai materi pendidikan yang masih didominasi dari dunia Barat. Isu itu menarik, karena anggapan pendidikan Barat dapat merusak moral generasi muda di waktu itu.
Selain pendidikan, tema lain yang dapat ditelusuri yaitu diskusi mengenai perbandingan kondisi perempuan di Indonesia dan Eropa. Titi Sastroamidjojo, salah seorang perempuan dari Indonesia membagikan pengalamannya tentang kondisi feminisme Barat yang melangkah terlalu jauh sehingga tak mampu menyikapi menyikapi lembaga perkawinan.
Untuk itu Titi menyarankan agar perempuan Indonesia dapat melakukan penyesuaian menurut " situasi kita dan watak Timur kita" .
Tak hanya membandingkan, para perempuan itu juga telah maju dengan membicarakan tema pernikahan anak. Tema tersebut diangkat Moegaroemah dari Poetri Indonesia.
Kembali ke tulisan Soekarno, perempuan Indonesia harus menyongsong masa depan. Memposisikan diri sebagai pendidik pertama.
Soal ini Soekarno, mengutip negarawan Turki, Mustafa Kemal Pasha, menulis, " bahwa kita punja kemerdekaan, kebangasaan, kekuasaan, dan lain-lain hal jang bagus adalah tergantung daripada kebudimananja kita punja puteri-puteri di dalam hal didik-mendidik?"
Di Hari Ibu, tugas perempuan Indonesia tak hanya sekadar memperingatkan dan mengucapkan selamat. Masih banyak isu dan masalah yang harus dibereskan guna mencapai `emansipasi perempuan` maupun `emansipasi bangsa`.
" Ringkasannja," kata Soekarno " buat kaum perempuan Indonesia adalah bertimbun-timbun banjaknja kerdja jang menunggu." (Ism)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli


Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
