Pemimpin Hamas Surati Jokowi, Minta Dukungan Hentikan Israel

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 21 Mei 2021 12:00
Pemimpin Hamas Surati Jokowi, Minta Dukungan Hentikan Israel
Ismail Haniyeh berharap Indonesia dapat memobilisasi dukungan dunia agar Israel berhenti melakukan agresi.

Dream - Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, menulis surat untuk Presiden Indonesia, Joko Widodo, tentang meningkatnya agresi Israel di Palestina. Lewat surat tersebut, Haniyeh meminta Jokowi untuk menggerakkan dukungan mendesak Israel menghentikan agresi militer.

" Kami meminta Anda untuk bertindak segera, dan untuk memobilisasi dukungan Arab, Islam dan internasional, untuk mengambil posisi yang jelas dan tegas untuk mewajibkan penjajah segera mengakhiri agresi dan teror yang dilakukan oleh Israel terhadap Jalur Gaza yang terkepung," ujar Haniyeh dalam suratnya, dikutip dari Anadolu Agency.

Dia menyerukan diakhirinya semua pelanggaran di Yerusalem yang diduduki dan orang-orangnya. Haniyeh juga mendesak skema Yahudisasi, permukiman, pengusiran paksa serta diskriminasi rasial dihentikan.

" Mencabut semua keputusan yang menargetkan gerbang dan lingkungannya, terutama lingkungan Sheikh Jarrah."

 

1 dari 5 halaman

Desak Israel Pergi dari Masjidil Aqsa

Haniyeh juga meminta Jokowi memobilisasi dukungan internasional untuk mendesak Israel agar menjauhkan tangannya dari Masjidil Aqsa. Juga agar Israel menghentikan pelanggaran dan kekerasan kepada jemaah dan mengizinkan mereka beribadah dengan bebas di Masjidl Aqsa yang diberkahi.

Juru Bicara Presiden, Fajdroel Rachman, belum memberikan tanggapan mengenai hal ini.

Setidaknya 227 warga Palestina telah tewas, termasuk 64 anak-anak dan 38 wanita, dan 1.500 lainnya terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak 10 Mei, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Selain itu, 28 warga Palestina tewas dalam bentrok dengan militer Israel di Tepi Barat. Termasuk pula 4 anak-anak.

Ketegangan baru-baru ini yang dimulai di Yerusalem Timur selama bulan suci Ramadhan menyebar ke Gaza sebagai akibat dari serangan Israel terhadap jemaah di kompleks Masjidil Aqsa dan lingkungan Sheikh Jarrah.

Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Al-Aqsa berada, selama perang Arab-Israel 1967. Negara itu mencaplok seluruh kota pada 1980 dalam sebuah tindakan yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

2 dari 5 halaman

Jerit Bocah Palestina: Rakyat AS, Setop Kirim Senjata ke Israel

Dream - Video gadis Palestina usia 10 tahun di Gaza menyedot perhatan dunia. Dia mendesak orang-orang untuk peduli dengan nasib anak-anak Palestina.

" Kami sedang sekarang. Kami tak seharusnya menerima ini," ujar gadis bernama Nadeen Abed Al Lateef di hari Minggu saat serangan mematikan Israel berlangsung.

Berbaju ungu, Nadeen berdiri di reruntuhan rumahnya bersama adik laki-lakinya berusia 6 tahun. Dia pun mendesar rakyat Amerika Serikat untuk berhenti mengirim senjata ke Israel.

" Rakyat Amerika, berhenti memberi, berhenti memberikan senjata kepada penjajah. Itulah cara kalian dapat membantu kami," ujar Nadeen kepada NBC.

Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas di Gaza setelah serangan udara Israel berulang kali dengan 61 korban di antaranya adalah anak-anak. Gaza menampung 2 juta orang dan telah diblokade Israel sejak 2007.

Otoritas Israel mengklaim 10 orang di wilayahnya tewas sebagai serangan 3.300 roket dari Hamas sejak awal konflik, termasuk dua anak. Hamas yang mengendalikan Gaza dianggap sebagai organisasi teroris oleh Israel dan AS.

 

3 dari 5 halaman

Cita-cita Jadi Dokter, Tak Peduli Jika Tertembak

Nadeen mengaku ingin menangis ketika melihat begitu banyak orang yang ketakutan. Bocah 10 tahun itu ingin menjadi dokter tetapi sekolahnya harus ditutup dan pengajaran online terhenti karena serangan tersebut.

" Ketika saya besar nanti, saya ingin menjadi dokter untuk membantu masyarakat saya, tetapi saya tidak bisa. Tidak ada pembelajaran. Saya tidak punya hak untuk belajar karena penjajah. Hak saya untuk belajar hilang," kata dia.

Nadeen pun menyatakan dia tetap akan mewujudkan cita-citanya. Dia sudah tak peduli pada apa yang akan terjadi nanti.

" Saya menjalani hidup saya, jika saya tertembak saya tidak peduli, saya masih akan pergi belajar. Impian saya adalah menjadi seorang dokter dan saya akan menjadi seorang dokter. Saya tidak peduli jika Anda menembak saya atau apa pun saya akan menjadi dokter," ucap dia.

Sumber: Independent.co.uk

4 dari 5 halaman

Satu-satunya Laboratorium Tes Covid-19 di Gaza Hancur Diroket Israel

Dream - Serangan udara yang dilancarkan Israel turut menyebabkan sebuah laboratorium di Gaza, Palestina, rusak parah pada Selasa, 18 Mei 2021. Padahal, laboratorium tersebut merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan yang digunakan untuk tes Covid-19.

Tingkat pengujian kasus positif di Gaza termasuk yang tertinggi di dunia, mencapai 28 persen. Rumah sakit di wilayah miskin yang telah diblokade oleh Israel selama 15 tahun sudah penuh dengan pasien.

Salah satu warga Gaza, Roba Abu Al Awf, 20 tahun, bersiap menghadapi malam yang sulit. Dia dan keluarga serta sejumlah warga Gaza hanya bisa duduk diam di rumah.

" Kematian bisa datang kapan saja, pemboman ini gila dan tidak pandang bulu," kata Roba, dikutip dari Channel News Asia.

Serangan udara Israel di Gaza telah merusak jalan-jalan dan infrastruktur penting. Listrik padam, membuat Gaza dilanda kegelapan.

5 dari 5 halaman

Gaza Dilanda Kegelapan

Otoritas kelistrikan di Gaza telah mengeluarkan peringatan bahan bakar yang tersisa hanya cukup untuk menyediakan listrik selama dua hingga tiga hari lagi.

Krisis keamanan berisiko memicu bencana kemanusiaan. PBB menyebut hampir 40 ribu warga Palestina terlantar dan 2.500 lainnya telah kehilangan rumah.

Sepanjang berlangsungnya agresi, kelompok Hamas telah menembakkan sekitar 3.350 roket ke Israel. Baku tembak yang terjadi merupakan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Hamas juga menyatakan bakal lebih banyak melakukan serangan roket ke Tel Aviv. Selama Israel tidak menghentikan serangan di daerah pemukiman di Gaza.

Jet-jet tempur Israel juga menghantam terowongan bawah tanah Hamas, " Metro" . Sebelumnya Israel sempat mengakui fasilitas tersebut termasuk sebagian wilayah sipil.

Beri Komentar