Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Serangan malware menjadi ancaman pengguna gawai yang menggunakan sistem operasi Android. Ransomware itu bernama DoubleLocker.
Serangan DoubleLocker itu akan mengenkripsi data pengguna dan mengunci gawai dengan cara mengubah PIN. Untuk membuka gawai yang telah terkunci, DoubleLocker meminta tebusan sejumlah uang.
Laman The Register menyebut, ransomware ini pertama kali ditemukan oleh peneliti Malware di perusahaan keamanan ESET, Lukas Stefano.
"DoubleLocker menyalahgunakan layanan aksesibilitas Android, yang merupakan trik populer di kalangan penjahat dunia maya," kata Stefanko.
Malware berbahaya ini menggunakan cara operasi (virus) trojan untuk menginfeksi sistem perbankan. Cara inilah yang memungkinkan proses pembayaran.
Sistem malware ini menyebar melalui permintaan 'pembaharuan' perangkat aplikasi Adobe Flash Player yang muncul melalui laman website tertentu.
Setelah muncul, aplikasi akan memberitahukan bahwa sistem perangkat lunak gawai mengalami kerusaka. Malware memberi peringatan sistem itu 'Layanan Google Play'.

Setelah diizinkan pengguna gawai, malware akan mengaktifkan administrator perangkat dan menjadikannya `pemilik` gawai. Tentu saja, ini dilakukan tanpa sepengetahuan pemilik gawai.
"Ransomware akan menjadikan dirinya sebagai aplikasi default. Setiap kali pengguna mengklik tombol home, maka ransomware akan diaktifkan dan perangkat terkunci," ucap Stefanko.
DoubleLocker menciptakan dua alasan bagi para korban untuk membayar. Pertama, ransomware itu mengubah PIN perangkat, yang secara efektif menghalangi korban untuk menggunakannya. Kedua, DoubleLocker mengenkripsi semua file dari direktori penyimpanan utama perangkat menggunakan algoritma enkripsi AES.
Uang tebusan yang ditetapkan sebesar, yaitu 0,0130 bitcoin atau US$54, setara, Rp730 ribu. Selain itu, untuk pengguna yang enggan membayar, pengguna dapat melakukan reset pabrik, factory reset. Tetapi, cara terakhir ini tidak akan dapat memulihkan data yang telah terenkripsi.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?