Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
CEO WWF Indonesia Efransyah Saat Peluncuran Gerakan 'Siaga Bumi' (Dream.co.id/Maulana Kautsar)
Dream - Bahaya pemanasan global tengah mengancam kehidupan manusia. Suhu bumi yang meningkat berpotensi memicu perubahan siklus bumi yang berujung pada kelaparan dan kekacauan penduduk bumi.
Pernyataan itu disampaikan CEO World Widelife For Nature (WWF) Efransyah dalam acara deklarasi peluncuran Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi (Siaga Bumi) yang berlangsung di Taman Perdamaian Kompleks DPR-MPR RI, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, dia juga meminta masyarakat berusaha menekan peningkatan suhu bumi. Efransyah mengatakan jika temperatur panas bumi meningkat dua hingga tiga derajat celcius saja maka akan membahayakan peradaban.
" Jika suhu bumi naik 2-3 derajat maka akan ada ketidakdamaian, migrasi besar-besaran, kelaparan, dan kacaunya tata susunan bumi," ujar Efransyah, Senin, 21 September 2015.
Atas permasalahan ini, Efransyah menekankan pentingnya peningkatan upaya pemberdayaan lingkungan hidup. Salah satunya melalui pendekatan agama pada penjagaan lingkungan melalui konsep ekosufi.
" Pada ekosufi, dimensi moral dan etika menjadi basis penting menjaga alam, semisal hutan. Usaha ini dilakukan agar pengelolaan hutan terjalin terus menerus," jelasnya.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Baka mengakui pendekatan pelestarian alam melalui ajaran agama. Siti menyebut pendekatan rohani dapat dijalankan dalam upaya penjagaan hutan dengan Archeological Landscape.
" Hutan dan lingkungan ini memiliki ruh atau jiwa di setiap tapaknya. Tata kelola lahan dan hutan akan menjadi sangat penting," jelasnya.
Dia pun menyebut langkah pendayagunaan hutan dengan istilah Sustainable Forest Management, atau pengelolaan hutan agar terus lestari. " Sustainable Forest Management adalah langkah untuk mengelola hutan atau ekosistem dengan kearifan lokal masyarakat," jelasnya
Dengan begitu, Siti berharap, hutan dapat dikembangkan sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara sosial tanpa perlu dirusak.
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha