Peningkatan Suhu Bumi Berpotensi Picu Kekacauan

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 21 September 2015 14:46
Peningkatan Suhu Bumi Berpotensi Picu Kekacauan
Kenaikan suhu bumi antara 2-3 derajat dapat berdampak pada terciptanya ketidakdamaian, migrasi besar-besaran, kelaparan, dan kacaunya tata susunan bumi.

Dream - Bahaya pemanasan global tengah mengancam kehidupan manusia. Suhu bumi yang meningkat berpotensi memicu perubahan siklus bumi yang berujung pada kelaparan dan kekacauan penduduk bumi.

Pernyataan itu disampaikan CEO World Widelife For Nature (WWF) Efransyah dalam acara deklarasi peluncuran Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi (Siaga Bumi) yang berlangsung di Taman Perdamaian Kompleks DPR-MPR RI, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, dia juga meminta masyarakat berusaha menekan peningkatan suhu bumi. Efransyah mengatakan jika temperatur panas bumi meningkat dua hingga tiga derajat celcius saja maka akan membahayakan peradaban.

" Jika suhu bumi naik 2-3 derajat maka akan ada ketidakdamaian, migrasi besar-besaran, kelaparan, dan kacaunya tata susunan bumi," ujar Efransyah, Senin, 21 September 2015.

Atas permasalahan ini, Efransyah menekankan pentingnya peningkatan upaya pemberdayaan lingkungan hidup. Salah satunya melalui pendekatan agama pada penjagaan lingkungan melalui konsep ekosufi.

" Pada ekosufi, dimensi moral dan etika menjadi basis penting menjaga alam, semisal hutan. Usaha ini dilakukan agar pengelolaan hutan terjalin terus menerus," jelasnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Baka mengakui pendekatan pelestarian alam melalui ajaran agama. Siti menyebut pendekatan rohani dapat dijalankan dalam upaya penjagaan hutan dengan Archeological Landscape.

" Hutan dan lingkungan ini memiliki ruh atau jiwa di setiap tapaknya. Tata kelola lahan dan hutan akan menjadi sangat penting," jelasnya.

Dia pun menyebut langkah pendayagunaan hutan dengan istilah Sustainable Forest Management, atau pengelolaan hutan agar terus lestari. " Sustainable Forest Management adalah langkah untuk mengelola hutan atau ekosistem dengan kearifan lokal masyarakat," jelasnya

Dengan begitu, Siti berharap, hutan dapat dikembangkan sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara sosial tanpa perlu dirusak.

Beri Komentar