Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kehamilan yang dinanti-nanti akhirnya terjadi. Harapan akan menimang buah hati dalam hitungan bulan bakal jadi kenyataan. Tapi yang terjadi malah keguguran. Janin dalam kandungan tak mampu bertahan.
Kondisi ini bagi banyak ibu menimbulkan trauma yang mendalam. Apalagi jika keguguran terjadi berulang.
Belum lagi jika terdapat komplikasi yang terjadi setelahnya. Keguguran dalam
beberapa kondisi memang bisa mengancam nyawa ibu, terutama jika disertai banyak pendarahan.
" Ibu harus segera mendapat pertolongan dengan infus dan transfusi darah. Berbahaya juga jika keguguran disertai dengan infeksi, harus diberikan antibiotik yang cukup adekuat," ujar dr. Boy Abidin, spesialis obstetri dan ginekologi kepada Dream.co.id.
Beberapa kasus keguguran dipicu oleh infeksi atau bisa juga disertai infeksi. Penanganan infeksi ini harus segera dilakukan, karena menurut dr. Boy akan sangat berbahaya bagi nyawa ibu jika terlambat ditangani.
Komplikasi pasca keguguran juga jadi hal yang harus jadi perhatian. Risiko komplikasi bisa sangat tinggi jika ibu memiliki kadar HB yang rendah, dan hal ini bisa diketahui dari pemeriksaan darah.
" Daya tahan tubuh yang menurun, proses pendarahan yang lama, pemberian antibiotik yang tidak adekuat, bisa memicu komplikasi setelah keguguran," ungkap dr. Boy.
Penanganan keguguran sebenarnya sangat bergantung pada kondisi ibu. Jika keguguran yang terjadi secara spontan dan tak ada lagi sisa jaringan, maka dokter akan melakukan observasi
saja.
Tapi jika masih terdapat jaringan, prosedur kuretase akan dilakukan dan ibu bisa jadi dirawat selama beberapa hari.
Setelah keguguran terjadi, ibu juga tetap harus memperhatikan kondisi tubuh. Jika masih terjadi pendarahan lebih dari 2 minggu, segera periksa ke dokter.
" Dilihat setelah proses abortus apakah masih terjadi pendarahan atau tidak, kalau bersih seharusnya pendarahan tidak berlangsung lebih dari 2 minggu. Lihat juga apakah ibu terjadi
peningkatan suhu badan yang merupakan tanda infeksi), harus segera periksa ke dokter," pesan dr. Boy.
Untuk informasi seputar kesehatan dan kehamilan lainnya dari dr. Boy, bisa dilihat akun Instagram dan channel YouTube-nya di sini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya