Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Perjalanan Hijrah Mantan "Dewa Gitar" Jamaika

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 8 September 2015 18:30
Perjalanan Hijrah Mantan
Hidayah datang saat dirinya mendalami ajaran agama Islam.

Dream - Malam sudah begitu larut. Pria bertubuh gempal itu masih bersemangat. Dia berbincang dengan seorang lelaki yang bertubuh pendek dengannya. Sesekali, senyum terpancar dari wajahnya.

Dialah Bilal Ameenah Philips. Publik di Tanah Air mengenal pria keturunan Jamaika sebagai seorang mualaf dan ulama yang mengislamkan 3.000 orang tentara Amerika Serikat. Terkenal sebagai ulama hebat, dia masih rendah hati. Setiap orang yang mengajaknya mengobrol tak lelah disapanya.

Bahkan, dalam kajian yang dihadiri jemaah, dia sering menyelipkan humor-humor segar. Salah satu humor yang sering dia keluarkan ialah soal Jamaika.

" Jamaika hanya sangat terkenal karena Bob Marley, penyanyi beraliran reggae dan Usain Bolt, pelari tercepat dunia. Semoga, Jamaika juga dapat dikenal melahirkan ulama hebat," selorohnya diikuti tawa ribuan jemaah yang hadir di Masjid Al Bina, Senayan, Jakarta, Senin, 7 September 2015.

Perjalanan spiritual ulama berkulit hitam ini tidaklah mudah. Dia mengaku sempat terjebak dalam dunia musik yang rentan dengan narkoba dan seks bebas. Masa remajanya dilalui sebagai penganut atheis, tak bertuhan. " Itu karena tempat saya kuliah dulu, Simon Frasier University bercorak pendidikan kiri. Dari situlah saya mengenal atheisme dan komunisme," kenang pria kelahiran 6 Januari 1946 itu.

Di masa kuliah itulah, Philip tersohor sebagai Dewa Gitar. Dalam sebuah pertunjukan di Malaysia, namanya kerap disejajarkan dengan Jimi Hendrix. Tetapi, di Malaysia itu pulalah dirinya mengenal Islam.

Penasaran dengan agama ini, Philip memutuskan memelajari lebih lanjut Islam. Aneka literatur bacaan dilahapnya. Puncaknya, sebuah peristiwa aneh dialaminya.

" Saya dalam keadaan seperti bermimpi. Saya tersedot dalam lubang hitam. Rasanya ingin berteriak, namun tak bisa. Hingga akhirnya saya tersadar," jelasnya.

Kejadian itulah yang meyakinkan dirinya untuk semakin tekun memelajari Islam. Hidayah menyapanya di tahun 1972. Philip megucapkan dua kalimat syahadat. Tetapi, menjadi Muslim saja tidak cukup bagi dirinya.

Philip terus berburu pengajaran Islam. Dia pun mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

" Saya ingin belajar Islam dari sumber-sumber klasiknya dan bukan mengambil dari praktik-praktik budayanya," kata Philips.

Tak berhenti disitu, dia lalu melanjutkan pendidikan ke Universitas Riyadh untuk menyelesaikan kuliah untuk meraih gelar MA. Usai menyelesaikan pendidikannya di Arab Saudi, dia turut " membantu" tentara Amerika Serikat yang kala itu menginvasi Iraq dalam Perang Teluk. Dia bukan ikut berperang, melainkan menyebarkan ajaran Islam kepada tentara AS. Walhasil, 3.000 tentara AS kala itu, akhirnya memeluk Islam.

Do You Want Selfie With Me?.....

1 dari 1 halaman

ISIS Hanya Memperburuk Citra Islam

ISIS Hanya Memperburuk Citra Islam © Dream

Dalam kesempatannya memperluas dakwah Islam, berbagai belahan dunia disambanginya. Dia bahkan pernah menyebarkan Islam hingga ke Filipina. Semalam, Senin, 7 September 2015, Philip kembali datang ke Indonesia. Ini bukan kali pertama kunjungannya. Empat tahun yang lalu dia mengaku pernah mengunjungi negara ini.

Saat ditemui Dream, usai memberikan kajian bertajuk " Why Islam?" di Masjid Al Bina, Senayan, Jakarta, dirinya mengaku takjub dengan Muslim di Indonesia. Dia melihat perkembangan Islam di Indonesia sudah sangat pesat.

Ini menjadi sinyal jika Islam berkembang dengan pesat. Dengan bertumbuh dan berkembangnya Islam, musuh-musuh Islam ingin Islam menghentikan laju perkembangan Islam dan mereka memutarbalikkan pemahaman mengenai Islam.

" Saya bersama tim, mencoba memahami tindakan ini. Tetapi saya yakin sesungguhnya Anti-Islam adalah bukti dari berkembangnya Islam di AS," katanya.

 
" Alhamdullillah, Islam di Indonesia berkembang dengan pesat. Saya terakhir kali ke Indonesia empat tahun lalu dan melihat sekarang perkembangannya sangat menggembirakan."

Dalam kesempatan langka ini, Philip sempat mengungkapkan keprihatinannya terhadap gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam. Islamic State of Iraqi and Syria (ISIS), menurutnya, merupakan sebuah gerakan yang akan mencoreng wajah Islam di dunia barat.

Kehadiran ISIS pada akhirnya akan membuat label Islam yang ramah dan baik menjadi hilang. Sebab, ISIS seringkali memaksakan keimanan pada pemeluk non-Muslim dan melakukan pembantaian bagi yang menolak pemikiran mereka.

" Tindakan ISIS sangat keji. Tindakan mereka mendistorsi citra Islam yang ramah. Masalah keyakinan itu adalah masalah perjalanan individu. Keyakinan tidak bisa dipaksakan," tegasnya.

Tidak hanya ISIS, Islam yang berkembang di dunia barat mendapatkan tantangan dari aktivis anti-Islam. Gerakan Islamphobia yang merebak di AS belakang juga menarik perhatiannya. Dia tidak ingin menyalahkan gerakan itu. Justru dari gerakan itu dia menilai, perkembangan Islam di negeri-negeri barat, khususnya negeri Paman Sam, sangat pesat.

" Islam berkembang dengan sangat pesat. Tapi, perkembangan ini hendak dihentikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi, saya yakin Islam akan tetap tumbuh dan berkembang," katanya.

Jadwal esok hari yang begitu padat membuatnya memita izin undur diri. Tapi, senyum lelaki yang malam itu menggunakan gamis berwarna hitam itu mengembang. Seketika, sebuah pertanyaan mengejutkan meluncur darinya, " Do you want selfie with me?"

Beri Komentar