Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Indonesia masih berduka atas insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin, 28 Oktober 2018 lalu.
Hingga kini proses evakuasi masih terus dilakukan, dikabarkan baru satu dari 189 orang korban yang berhasil teridentifikasi. Kotak hitam yang diharapkan mengungkap penyebab musibah ini juga telah ditemukan.
Jika melihat ke belakang, kejadian free fall pesawat ke atas air, kemungkinan untuk selamat memang sangat tipis. Namun bukan berarti keajaiban tidak mungkin terjadi.
Dalam sejarah penerbangan komersil dunia, tercatat dua kejadian serupa yang berujung bahagia.
Kisah pertama adalah pendaratan darurat pesawat US Airways 1549 di Sungai Hudson, Amerika Serikat, pada 15 Januari 2009.
Cheslye Sully Sullenberger adalah pilot yang mendaratkan pesawat Airbus A320 itu di Sungai Hudson.
Sullenberger mengarahkan pesawatnya ke sungai setelah dua mesin pesawat mati usai ditabrak sekelompok burung.
Pendaratan menegangkan itu membuat Sully berhasil menyelamatkan nyawa 150 penumpang dan 4 kru.
Sully kemudian menuangkan pengalaman pribadinya itu lewat buku. Ia menulis autobiografi dan cerita pendaratan pesawat berjudul Highest Duty, yang juga difilmkan dengan judul Sully.
Yang kedua datang dari Indonesia, yakni kisah pilot Abdul Rozak dalam pendaratan Garuda Indonesia GA421 pada 16 Januari 2002 di Sungai Bengawan Solo.
Usai menerbangkan pesawat rute Jakarta-Yogyakarta-Surabaya-Mataram dengan sukses pada 15 Januari 2002, Abdul Rozak bermalam di Mataram untuk kemudian terbang dengan jadwal dari Mataram-Surabaya-Yogyakarta-Jakata.
Saat terbang dari Surabaya ke Yogyakarta, pesawat yang membawa 54 penumpang pesawat yang dipilotinya terbang dalam kondisi hujan. Kapten Abdul Rozak kemudian menuju ketinggian jelajah 31.000 kaki.
Saat pesawat sampai di ketinggian 8.000 kaki, dan kedua mesin tak berhasil dihidupkan. Pilot melihat alur anak sungai Bengawan Solo dan memutuskan untuk mendarat di sana.
Cerita pendataran Abdul Razak juga dibukukan dengan judul Miracle of Flight. Hingga saat ini, nama Chesley dan Abdul Rozak akan dikenang dalam ingatan publik dan dunia penerbangan.
(Sah, Liputan6.com)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya