Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Cara Bertaubat Dari Dosa Ghibah (Foto Ilustrasi: Shutterstock.com)
Dream - Ghibah adalah salah satu perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Ghibah sendiri disebut juga dengan bergunjing yang berarti menyebutkan sesuatu tentang seseorang, sedangkan dia tidak menyukai hal itu diceritakan kepada orang lain.
Selain dilarang dalam agama, ghibah atau bergunjing juga mendatangkan dampak negatif, terutama dari sisi kehidupan sosial. Misalnya saja orang yang menggibah bisa dibenci orang karena kerap menceritakan orang lain, apalagi jika tidak pasti kebenarannya. Kemudian orang yang digibahkan, bisa saja akan dipandang buruk orang lain.
Bagi seseorang yang sudah terlanjut melakukan ghibah, maka harus menyadari perbuatannya dan memohon ampun kepada Allah SWT dengan cara bertaubat. Lalu, bagaimana caranya bertaubat dari perbuatan ghibah?
Berikut adalah penjelasan tentang cara bertaubat dari dosa ghibah sebagaimana dirangkum Dream melalui berbagai sumber.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Artinya: " Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf: 18)
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: " Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nur: 19)
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا ࣖ
Artinya: " Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 58)
Bagi seseorang yang terlanjur melakukan ghibah pada orang lain, maka harus segera bertaubat. Berikut adalah cara bertaubat dari dosa ghibah yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin:
Saat bertaubat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah bertekad penuh untuk meninggalkan perbuatan ghibah tersebut. Jauhilah perbuatan tersebut karena menyadari bahwa ghibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan menghadirkan dosa besar serta dampak yang buruk.
Cara bertaubah dari dosa ghibah yang berikutnya adalah menyesali perbuatannya. Dalam bertaubat, penyesalan menjadi hal yang sangat penting untuk menunjukkan bahwa seseorang benar-benar bertaubat.
Bahkan Imam Ghazali menjelaskan bahwa orang yang menyesal ditandai dengan tiga hal. Yakni hatinya lentur dan sensitif, air matanya mudah meleleh tanpa sadar, dan benci pada dosa yang pernah dinikmatinya. Orang yang bertaubat seperti itulah yang layak mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Ketika berniat untuk bertaubat kepada Allah SWT atas dosa ghibah yang dilakukan, maka orang tersebut juga harus bertekad untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya. Ia benar-benar sadar akan kesalahan serta konsekuensinya, sehingga tidak ingin melakukan lagi.
Saat bertaubat dari dosa ghibah, maka jangan lupa meminta maaf pada orang yang digibahkan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi:
" Jika berupa harta atau yang semisalnya, maka dikembalikan kepada (orang yang kita ambil hartanya), jika berupa tuduhan palsu, maka direhabilitasi namanya atau minta maaf kepadanya, dan jika berupa ghibah, maka minta dihalalkan."
Meski begitu, Imam Ibnu Taimiyah memiliki pendapat yang lain terkait dengan meminta maaf ini. Bahwa tidak perlu melakukan seperti itu jika akan menambah luka dan membuka bahaya yang baru. Akan lebih baik jika memohon ampun kepada Allah SWT, diam, dan banyak melakukan kebaikan pada orang yang pernah ia ghibahi. Lalu menyebutkan kebaikan dari orang itu untuk memutihkan nama baiknya yang sudah dirusak di masa lalu.
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym


5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?