Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Jasad perempuan berusia 60 tahun ditemukan membusuk di rumahnya di Yishun, Singapura. Jasad tersebut ditemukan setelah sejumlah tetangga mencium bau busuk yang berasal dari dalam rumah tersebut.
Mereka lalu menelepon polisi dan melaporkan adanya bau tidak sedap yang sangat mengganggu.
Menurut laporan, dikutip dari World of Buzz, polisi segera datang ke rumah wanita tersebut untuk melakukan investigasi. Saat polisi tiba, mereka menemukan jasad seorang perempuan tersebut bersama sang anak yang masih hidup di dalam rumahnya.
Wanita tersebut diperkirakan sudah meninggal lima hari yang lalu. Putrinya yang berusia 30 tahun dan masih tinggal dengan jasad tersebut ternyata menderita keterbelakangan mental.
Dengan kondisi tersebut, dia hanya diam di rumah dan tidak mengerti bagaimana cara menelepon polisi. Selain itu, kondisinya sebagai penyandang disabilitas membuatnya berperilaku seperti anak kecil.
Dalam kesehariannya, wanita 30 tahun itu selalu mengikuti sang ibu. Dia bahkan tidak berbicara atau berinteraksi dengan orang asing.
Inilah alasan mengapa dia sangat takut keluar rumah, terutama dengan tidak adanya sang ibu. Sehingga dia tetap berada di dalam rumah bersama mayat ibunya.
Setelah kejadian memilukan ini, banyak keluarga dari pihak ibu yang bersukarela merawat sang putri dan pemakamannya. Sementara itu, pihak kepolisian setempat masih menyelidiki alasan kematian sang ibu.
Dream - Saat memantau media sosial belakangan ini, ada satu klip unik yang menampilkan para pria sedang menari gembira sambil membawa peti mati di pundaknya.
Dengan iringan lagu bergenre EDM berjudul Astronomia yang dibawakan Tony Igi, para pria pembawa peti mati sambil menari ini disebut dengan dancing pallbearers.
Pembawa peti mati sambil menari ini merupakan bagian dari prosesi adat ketika memakamkan orang yang meninggal dunia di Ghana.
Sebenarnya, video mereka membawa peti mati di pundak sambil menari saat di pemakaman pernah viral di tahun 2017 silam.
Namun, kepopuleran video dancing pallbearers ini semakin meningkat selama terjadi pandemi Covid-19 saat ini.
Bersamaan dengan banyaknya meme unik mereka di media sosial, dancing pallbearers sekarang telah menjadi simbol kematian di tengah pandemi Covid-19.
Mereka menjadi peringatan bagi warga dunia untuk tinggal di rumah selama diberlakukan lockdown di beberapa negara.
Jika masih ada yang bandel untuk keluar rumah selama lockdown, maka dancing pallbearers akan datang dan mengajak korban Covid-19 menari bersama mereka.
'Ancaman' dancing pallbearers itu disampaikan melalui video yang dibagikan akun Twitter Michael Schwab di @michaelschwab13.
" Penari peti mati Ghana membuat video ucapan terima kasih ke para dokter dan juga memperingatkan semua orang 'tinggal di rumah atau menari bersama kami'," cuit Michael.
Dalam video, dancing pallbearers berseragam putih-putih. Pemimpin yang duduk di atas peti mati mengucapkan terima kasih kepada para dokter.
Di akhir ucapannya, dia mengancam orang-orang untuk tinggal di rumah atau mati karena Covid-19 dan menari bersama mereka dalam peti
Setelah menjadi sensasi, bisnis dancing pallbearers telah berkembang pesat. Ketenaran mereka mereka memengaruhi harga layanan mereka selama pandemi Covid-19.
“ Popularitas yang kami dapat membuat bisnis kami berkembang sekarang. Kami akan menaikkan harga kami setelah virus corona. Untuk saat ini, kami memiliki manajer di Kenya dan kami juga memiliki pengacara di Kenya.
" Di Ghana Anda harus kreatif. Saya perhatikan bahwa banyak pallbearers lainnya mengenakan pakaian hitam. Tetapi saya ingin pakaian kami berbeda, jadi saya menambahkan pakaian berwarna seperti putih, merah dan hitam," kata Benjamin Aidoo, pendiri kelompok itu dalam sebuah wawancara.
Sumber: World of Buzz
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam