4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Ilustrasi. (Foto: Freepik.com)
Dream - Sebagian orang pasti bermimpi bisa bekerja untuk orang kaya, apalagi jika majikannya adalah putri seorang bangsawan.
Diberi gaji tinggi, diajak keliling dunia, atau ikut makan di restoran mewah menjadi impian bagi orang-orang ini.
Namun tidak demikian dengan kisah perempuan bernama Catherine Coleman. Dia adalah mantan asisten pribadi (Aspri) seorang putri bangsawan Arab Saudi di Riyadh.
Awalnya perempuan Filipina ini bermimpi akan punya masa depan yang cerah jika menjadi Aspri putri bangsawan negara Petrodollar itu.
Tetapi bayangan Catherine ternyata meleset. Dia teringat bagaimana kejamnya si putri bangsawan yang tidak disebutkan namanya itu.
Sebagai Aspri, Catherine memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelayan, pembantu, dan sopir.
Dia bahkan diminta untuk mengambil alih peran dalam mendisiplinkan mereka jika melanggar salah satu aturan yang dibuat sang putri.
Menurut Catherine, pelayan tidak boleh mengambil makanan atau barang sisa milik kerajaan yang sudah tidak dipakai tanpa seizinnya.
Meski jabatannya lebih dekat dengan sang putri, Catherine sendiri punya daftar aturan yang harus dipatuhi. Saking banyaknya, dia menyebut panjangnya bisa mencapai empat halaman.
Beberapa aturan tersebut di antaranya Catherine dilarang berargumentasi dengan sang putri. Meskipun dia berada di posisi yang benar.
Catherine juga tidak boleh membelakangi bangsawan ketika berbicara. Tidak boleh terlalu akrab dengan bangsawan. Dia bahkan tidak boleh berteman dengan sesama staf.
Dia sering harus bekerja sampai jam 4 pagi. Selama perjalanan ke Paris, dia harus membersihkan kamar mandi para bangsawan.
Catherine juga mencuci pakaian mereka dengan tangan, termasuk lima pakaian ganti sehari.
Catherine, yang awalnya sebagai kepala pelayan dan kemudian naik jadi Aspri lima tahun lalu, juga diperingatkan untuk tidak melanggar peraturan negara.
Jika kedapatan melanggar peraturan negara, dia akan ditangkap. Kedutaan negaranya tidak akan diberitahu atau tidak akan dibela oleh pengacara.
Selama bekerja dengan bangsawan Saudi, Catherine mengklaim bahwa ia melihat foto-foto luka para pelayan sebelumnya setelah mereka mendapat hukuman fisik. Dia merasa mual saat melihat foto-foto tersebut.
Salah satu bentuk hukuman dari sang putri terhadap pelayan adalah menuangkan seember air es di atas kepalanya sebelum mereka dipaksa berdiri di luar sampai pagi pada malam musim dingin.
Pelayan lainnnya menunjukkan luka-luka memar akibat sang putri menendangnya sebelum dihadiahi perhiasan murah.
Para pelayan menjelaskan kepada Catherine bahwa setiap kali mereka dipukuli, mereka diberi perhiasan atau uang.
Jika mereka menerima pemberian sang putri bangsawan berarti mereka menerima permintaan maaf dari orang yang memukul mereka.
Setelah mendengarkan cerita kekejaman sang putri bangsawan dan pengalamannya sendiri, kebencian Catherine terhadap majikannya makin bertambah.
Baru tiga bulan bekerja, Catherine akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi aspri putri bangsawan Saudi untuk selamanya.
Apalagi Catherine pernah tidak menuruti perintah sang putri saat diminta untuk mendisiplinkan salah satu pelayan.
Sayangnya Catherine tidak bisa berhenti dan keluar begitu saja karena dia terikat kontrak kerja selama 1 tahun.
Jika nekat membatalkan kontrak, maka Catherine harus membayar denda yang tidak sedikit, mencapai US$4.000 atau hampir Rp60 juta.
Tidak sampai di situ saja, dia juga harus membayar biaya kompensasi kepada agen kerja yang menempatkannya di Arab Saudi.
Catherine mencoba untuk menggertak sang putri bangsawan agar mengakhiri kontrak dan memberikannya izin keluar.
Dia melakukannya dengan mengancam akan melaporkan kekejaman sang putri kepada walinya, yaitu saudara laki-lakinya yang baik hati dan lembut.
Kaum Wanita di Arab Saudi memiliki wali laki-laki. Selama Catherine bekerja di Saudi, para wanita ini tak bisa berbuat banyak tanpa izin dari para wali mereka.
Catherine mengatakan kepada sang putri bahwa dia tidak akan bicara ke saudara laki-lakinya jika diizinkan pulang tanpa syarat.
Dua jam setelah percakapan itu, Catherine menerima sebuah amplop berisi visa keluar dan terbang pulang keesokan harinya.
(Sah, Sumber: Albawaba)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
