Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Ilustrasi Gambar Kiamat Serangga (Foto: Lipi.go.id)
Dream - Penurunan angka populasi serangga menjadi pertanda sudah dekatnya kiamat bagi kehidupan serangga di alam. Saat ini jumlah serangka yang ada di dunia berjumlah 5,5 juta ekor dan baru 20 persen yang telah teridentifikasi..
Pada 2017, laporan Caspar Hallman dari Radboud University, Belanda menemukan bahwa populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75 persen selama 27 tahun terakhir. Bahkan Bayo dan Wyckhuys melaporkan penurunan serangga tetap terjadi meskipun di kawasan cagar alam yang masih belum terjamah.
Peneliti bidang Entomologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Djunijanti Peggie mengungkapkan bahwa fenomena berkurangnya populasi serangka ini disebut dengan status kiamat dan sangat mengkhawatirkan.
" Status kiamat serangga saya setuju dan sangat menghawatirkan," ungkap Peggie dalam situs resmi LIPI, Senin 8 Juni 2020.
Menurut Peggie, di Indonesia pendataan terhadap serangga masih terus dilakukan oleh Kehati dan LIPI yang diperkirakan jumlahnya terus menurun.
Peggie mengatakan untuk menemukan serangga yang tidak masuk dalam kategori hampir punah dan langka serta bukan endemi suatu wilayah di saat seperti ini cukup sulit.
Apalagi mencari jenis serangga yang memang sudah masuk dalam katergori dilindungi karena hampir punah, langka, atau endemik suatu wilayah.
Namun saat ini LIPI mendapatkan dana dari Global Biodiversity Infomation Facility untuk melakukan pendataan dan digitalisasi spesimen kupu-kupu. Tak hanya itu LIPI juga membuka kesempatan bagi publik untuk berkontribusi dalam pendataan serangga.
Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI lainnya, Cahyo Rahmadi menyatakan, negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun. Sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen.
" Inilah yang dianggap sebagai kondisi kritis eksistensi serangga," terang Cahyo.

Jika penurunan jumlah populasi serangga di alam semakin berkurang secara global, hal ini beresiko tinggi terhadap keberlangsungan ekosistem makhluk hidup di muka bumi.
Serangga dan tumbuhan adalah penyusun dasar kehidupan. Mereka adalah penyerbuk, pengontrol hama, pengelola limbah dan pengurai jasad. Selain itu, serangga adalah makanan bagi hewan lain. Peran serangga sangat vital dalam ekosistem.
" Jadi bayangkan jika serangga punah akan banyak jasad yang menumpuk dan tidak terurai," ungkap Peggie.
(Sah, Sumber: LIPI)
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele