Jadi TKI Demi Berangkat Haji

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 10 Juli 2019 16:01
Jadi TKI Demi Berangkat Haji
Bekerja sebagai kuli bangunan dan tukang batu.

Dream - Apapun akan dilakukan jika punya mimpi. Itu pula yang dilakukan seorang calon jemaah haji asal Desa Majannang, Kecamatan Parigi, Kabupaten howa, Sama bin Japa.

Sama rela merantau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Serawak, Malaysia demi membiayai perjalanan ibadah haji ke Tanah Suci.

Sama mengatakan, selama menjadi TKI, dia rela mengejakan apa saja demi mendapatkan uang yang halal. Dia bekerja menjadi tukang batu hingga kuli bangunan.

" Kalau ada yang tanya saya uang untuk naik haji dari mana, saya jawab ini betul-betul adalah hasil keringat. Karena selama saya kerja di sana, keringat terus menetes," kata Sama, kepada , Rabu, 10 Juli 2019.

Sama, dan istrinya, Misa, merantau ke Negeri Jiran, sejak 2007. Dua tahun kemudian dia mendaftar sebagai calon jemaah haji asal Kabupaten Gowa.

Selama di Malaysia, Misa juga membantu perekonomian keluarga. Dia bekerja di perkebunan sawit dengan gaji antara 1.000 hingga 1.500 ringgit atau senilai Rp3,2 juta per bulan, atau lebih.

 

1 dari 5 halaman

Ingin Injakkan Kaki di Tanah Suci

Setelah sepuluh tahun menunggu, Sama dan Misa berangkat untuk berhaji. Dia mengatakan, keberangkatannya ini sebagai berkah.

Sama bercerita, dia terus terbayang mampu menginjakkan kaki di Masjid Nabawi hingga Masjidil Haram.

" Alhamdulillah menunggu 10 tahun tidak terasa karena kemauannya kita yang kuat. Doakan kami bisa sehat dan selamat sampai tujuan," kata dia.

2 dari 5 halaman

Suami Satpam Berupah Rp900 Ribu, Istri Mbok Jamu, Kini Mereka Berhaji

Dream - Menjalankan ibadah haji bagi sebagian orang bukanlah perkara sepele. Butuh perjuangan untuk bisa melaksanakan rukun Islam kelima ini.

Selain kesabaran mengumpulkan biaya, niat kuat dan ikhtiar tak terputus menjadi penentu terlaksananya ibadah ini. Hal inilah yang dibuktikan oleh petugas keamanan komplek perumahan di Bangkalan, Jawa Timur, Mansur.

Dikutip dari Liputan6.com, Mansur yang tinggal di Kampung Kejawanan, Kecamatan Socah ini setiap bulan menerima upah dari pengelola perumahan Griya Abadi sebesar Rp900 ribu.

Pada 2011, Mansur memutuskan menggunakan upah bulannya untuk membuka tabungan haji. Lewat tabungan itu, dia bersama istrinya mendaftar agar bisa pergi haji bersama.

" Waktu mendaftar, setorannya per orang Rp25 juta," kata Mansur.

 

3 dari 5 halaman

Cara Penuhi Hidup dan Biaya Sekolah Anak

Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak-anaknya, keluarga Mansur mengandalkan pendapatan dari usaha jamu yang dilakoni sang istri.

Pun jika ada kelebihan uang dari usaha itu setelah semua kebutuhan terpenuhi, Mansur dan istrinya langsung memasukkan ke tabungan haji.

Selang delapan tahun kemudian, akhirnya Mansur dan istri bisa berangkat ke Tanah Suci. Mereka pun mampu melunasi seluruh biaya haji yang ditetapkan sebesar Rp36,5 juta per orang.

" Kalau tidak nabung, mau dapat uang dari mana," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Musthofa Aldo

4 dari 5 halaman

Suami Tukang Bangunan, Istri Jadi Kuli, Kini Mereka Berhaji

Dream - Berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji butuh biaya banyak. Meski demikian, pasangan suami-istri dengan penghasilan pas-pasan ini mampu mengumpulkan ongkos untuk menunaikan rukun Islam ke lima ini.

Merekalah Supandi dan Arsi. Pasangan asal Desa Patemon, Kecamatan Jati Banteng, Situbondo, itu bekerja sebagai tukang dan kuli. Supandi yang berusia 50 tahun sebagai tukang. Sementara sang istri yang lima tahun lebih muda menjadi kulinya.

Bukan di tanah kelahiran. Mereka harus mengadu nasib ke pulau seberang. Bali. Selama delapan tahun mereka memeras keringat dan membanting tulang untuk mengumpulkan ongkos untuk naik haji.

Upah mereka tak besar-besar amat untuk hidup mereka di tanah rantau. Pertama kali menginjak Pulau Dewata, Supandi dibayar Rp55 ribu perhari. Sementara Arsi menjadi kuli dengan upah Rp50 ribu tiap harinya.

 

 

5 dari 5 halaman

Hidup Seadanya, Cari Kayu di Gunung

Arsi merupakan satu-satunya wanita yang ikut bekerja di proyek. Selama bekerja, ia bersama suaminya tidur di tempat yang disediakan oleh proyek.

Sebelum tahun 2010, mereka bekerja seadanya. Kadang mengumpulkan dan mengangkut kayu dari gunung. Ada kalanya mereka bekerja mengangkut pasir.

Keinginan berhaji datang begitu kuat. Sehingga pasutri ini mulai menabung dari hasil jerih payah mereka. Tiap hari, keduanya hanya belanja sepuluh ribu untuk makan berdua. Sisanya ditabung.

“ Seadanya, sepuluh ribu untuk makan sehari berdua, cukup sayur dan ikan asin,” tutur Arsi, sambil sesenggukan. Tapi, mimpi itu terwujud tahun ini.

Sepulang dari berhaji nanti, Supandi dan Arsi akan kembali menjalani pekerjaannya sebagai kuli di Bali. Mereka berharap kelak bisa menghajikan anaknya dari hasil pekerjaannya.

Sumber: jatim.kemenag.go.id

 

Beri Komentar
Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary_mark