Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Seorang wanita di India mengandung janin berusia empat bulan yang telah meninggal selama 15 tahun di dalam perutnya. Janin yang sudah mengeras seperti batu tersebut tidak tumbuh di dalam rahim, namun di dalam perutnya.
Ahli bedah yang menanganinya, Nilesh Junankar berhasil mengeluarkan janin itu. Dia membebaskan wanita itu dari rasa sakit perut yang menderanya selama bertahun-tahun.
Ini adalah bayi kedua wanita itu, yang telah dia aborsi sesuai petunjuk dokter kandungan dan ginekolog yang merawatnya. Sebelumnya keluarga tersebut memutuskan untuk tidak memiliki anak kedua.
![]()
Laporan Times of India, bayi batu atau dalam dunia medis sering disebut dengan lithopedion merupakan kejadian yang sangat langka. Hanya sekitar 300 kasus tersebut yang telah dilaporkan dalam 400 tahun terakhir di seluruh dunia.
© Dream
Kasus pertama lithopedion dilaporkan oleh seorang dokter Arab, Abu-al-Quasim (936-1013), pada abad ke-10.
Mangala Ketkar menjelaskan kasus tersebut muncul karena telur yang telah dibuahi kadang-kadang berpindah ke perut dan mulai tumbuh di sana.
"Tapi tidak bisa tumbuh sempurna dan tersedot ke dalam peritoneum dan diubah menjadi batu. Dalam kasus ini, karena pasien melakukan aborsi, dan menstruasinya kembali normal, baik dia maupun orang lain tidak bisa mengira dia hamil kecuali dilakukan sonografi," ucap Mangala.
Junankar menambahkan pasien tersebut mengandung bayi pertamanya pada 2000. Tapi, dia hamil lagi pada 2002. Tapi keputusan mengejutkan dibuat pasangan itu. Mereka....
© Dream
Keluarga tersebut tidak menginginkan bayi kedua sehingga mereka memilih aborsi. Setelah aborsi, wanita itu mendapat menstruasi seperti biasanya.
Karena tidak dilakukan sonografi, baik dia maupun dokter tidak mengira bayi itu masih di sana. Karena aborsi dilakukan di awal kehamilan, maka tidak diperlukan sonografi. Tapi, akibatnya dia menderita sakit perut yang tidak sembuh-sembuh meski mengunjungi beberapa dokter.
"Dokter memberikan penanganan sesuai dengan gejala yang dia katakan. Sehingga dokter juga menganggap pasien sakit perut biasa," katanya.
Sakit perutnya semakin menjadi-jadi dan dia mulai muntah-muntah. Setelah diperiksa ternyata itu adalah janin wanita itu yang sudah dia aborsi 15 tahun silam.
(Sah)
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Mau Nonton Grand Final AXIS Nation Cup 2026? Ini Cara Daftar dan Datang ke Istora Senayan

Sambut Tren Warna 2027, JOTUN Hadirkan 24 Warna dalam Koleksi JOURNEYS

16 Tim Futsal Pelajar Siap Berlaga di Grand Final AXIS Nation Cup 2026, Ini Daftarnya