Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dream - Kerajaan Arab Saudi telah membentuk komite khusus untuk menangani persoalan pembayaran kompensasi kepada para korban jatuhnya alat derek raksasa (crane) di Masjidil Haram pada Jumat, 11 September 2015. Tragedi tersebut menelan sebanyak 111 orang meninggal dan 238 mengalami cidera.
Pelayan Dua Masjid Suci, Raja Salman memerintahkan pemberian kompensasi sebesar 1 juta riyal Saudi atau setara Rp3,7 miliar bagi korban yang meninggal, dan 500.000 riyal Saudi atau setara Rp1,8 miliar bagi korban luka-luka. Selain itu, Raja Salman juga mengundang dua anggota keluarga korban meninggal untuk berhaji menjadi tamu agung kerajaan.
Kompensasi ini tidak untuk menghilangkan kewajiban denda yang dibebankan kepada perusahaan pemilik crane, juga tidak untuk menangguhkan tuntutan hukum atas tragedi tersebut.
" Tidak ada ruang untuk penipuan. Tidak satupun dapat secara ilegal mendapatkan keuntungan dari kompensasi kerajaan," ujar Direktur Departemen Kesehatan Mustapha Baljoun di Mekah, dikutip Dream dari saudigazette.com.sa, Kamis, 8 Oktober 2015.
Mustapha mengatakan, komite tengah bekerja mengumpulkan data para korban secara rinci. Seluruh data dikumpulkan dari setiap rumah sakit.
" Kami akan berhati-hati mengumpulkan data dari seluruh korban meninggal dan terluka untuk diteruskan menjadi laporan kepada otoritas yang berwenang agar mereka dapat mempelajari berkas terpisah dan mengambil keputusan," kata dia.
Mustapha mengatakan data tersebut bersifat valid. Di dalamnya terdapat keterangan seperti nama korban, kewarganegaraan, nomor paspor, nomor pemondokan, waktu masuk, dirawat atau meninggal.
Dia melanjutkan komite medis akan menindaklanjuti setiap kasus untuk menentukan apakah cidera yang diderita korban dapat disembuhkan atau cacat secara permanen.
" Tidak ada kesempatan untuk melakukan penipuan bahkan hanya untuk 0,1 persen saja. Datanya begitu lengkap," kata Mustapha. Dia menambahkan sejauh ini belum ditemukan upaya ilegal untuk mendapatkan keuntungan dari pembayaran kompensasi ini.
" Hampir semua korban yang meninggal telah diidentifikasi dan banyak korban luka telah pulih," kata dia.
Para korban dalam tragedi Mekah berasal dari 12 kewarganegaraan yang berbeda. Jumlah kematian terbanyak berasal dari Bangladesh sebanyak 25 jiwa dan Mesir sebanyak 23 jiwa, sedangkan korban luka terbanyak berasal dari Pakistan sebanyak 51 orang dan Indonesia sebanyak 47 orang.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya