Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Italia adalah negara dengan salah satu fasilitas kesehatan terbaik di dunia barat. Dengan keahlian mereka dalam bidang kedokteran, mereka merasa siap menghadapi ancaman wabah Covid-19 sebelum menyerang negara mereka.

Namun, setelah virus corona yang menyebabkan Covid-19 mencapai negara itu, keadaan berubah. Mereka harus bekerja keras untuk menangani wabah tersebut.
Seorang perawat di sebuah rumah sakit di Bergamo, Italia Utara, bahkan terkejut dengan banyaknya korban tewas akibat wabah Covid-19 itu.

Dia bahkan menggambarkan situasi di Italia yang diserang wabah Covid-19 seperti dalam kondisi sedang perang.
" Saya belum pernah melihat begitu banyak orang mati dengan mata kepala sendiri. Situasinya seolah-olah kita sedang berada medan perang," katanya.
Lebih dari 2.500 orang tewas dalam empat minggu terakhir di Italia akibat wabah Covid-19.
Dengan lebih dari 31.500 kasus yang dinyatakan positif Covid-19, dokter dan perawat di negara itu, khususnya kota-kota di Italia Utara, bekerja keras untuk melawan wabah tersebut.

Mereka dilaporkan kekurangan tempat tidur dan petugas medis, karena banyak dari mereka yang dilaporkan telah terinfeksi virus corona.
Para perawat yang tidak diizinkan untuk mengungkapkan situasi di Italia dan meminta identitas mereka dirahasiakan, terpaksa berhenti dari pekerjaan mereka akibat tidak tahan dengan kondisi di negara itu.
Italia Utara telah menjadi contoh peringatan tentang apa yang bisa terjadi di negara dengan salah satu fasilitas medis terbaik di dunia, meskipun telah mengambil langkah drastis untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

Kota Milan dan Bergamo adalah di antara wilayah di Italia yang paling buruk tingkat penularannya. Kota Bergamo sendiri memiliki 3.800 kasus positif yang dikonfirmasi.
Dr. Lorenzo D'Antiga, direktur bagian anak di Rumah Sakit Papa Giovanni XXIII di Bergamo, mengatakan ia dan rekannya bekerja di salah satu daerah dengan jumlah kasus terbanyak.
Menggambarkan situasi di Kota Bergamo, Dr. Lorenzo mengaku seperti berada di dalam pusaran angin topan.
Pada awal Maret, setelah korban tewas akibat Covid-19 dan jumlah kasus positif melonjak, pemerintah Italia mulai mengambil tindakan pencegahan untuk mengendalikan wabah tersebut.
Pada 8 Maret, Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, memberlakukan jam malam di Lombardy. Dalam dua hari berikutnya, ia telah memperluas perintah jam malam di seluruh negeri.
Sumber: Siakapkeli.my
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya